Cerita dewasa Tergiur Tubuh Kakak Iparku



Cerita dewasa Tergiur Tubuh Kakak Iparku - Kurang lebih setahun aku dan istiku Reva menikah. Tak lama setelah kami menikah aku dikaruniai seorang anak perempuan pertama kali yang cantik dan imut, mirip skali dengan wajah ibunya yang menawan. Setelah kelahiran anak pertama kami itu, hubungan kami semakin mesra dan semakin bergairah.

Hubungan sex kami pun semkain lama semkain HOT, kami sering bercinta dimana saja dikala kita sudah dilanda nafsu. Meski terkadang terhalang oleh mertuaku yang sering mengagetkan kami saat kai sedang bercumbu

Namun kali ini aku akan menceritakan pengalamanku sebelum aku menikah dengan Reva istriku. aku sudah kenal dengan Reva sejak kami masih satu sekolahan.

Namun sebelum mengenal Reva, aku sudha mengenal Linda kakak kandung Reva. Aku mengenal Linda saat ada acara disekolahan. Niat pertamaku adalah menjalin hubungan dengan Linda, yang menjadikan Linda mengenalkanku dengan adiknya Reva itu.

Setengah taun kemudian..

“Asalamualaikum” Suara lembut dan mesra terdengar dari luar pintu.

Kemudian mertuaku menjawab salamnya dan lekas membukakan pintu.

“Eeeehhhh Linda, kenapa gak nelpon dulu kalo mau datang” Ujar ibu mertuaku

Linda pun kemudian melangkah masuk sambil menggandeng Topan, anak laki-lakinya yang berumur sekitar 3 tahunan, buah perkawinannya dengan Imam 4 tahun yang lalu. Linda berkata kalo dia ingin tinggal bersama ibunya untuk sementara waktu karena suaminnya sedang luar kota untuk mengurus pekerjaannya.

“Sejak kapan suamimu pergi??? Sudah lama yaa?” tanya ibu mertuaku

“Lumayan lama mah, Linda ditinggal dirumah hanya dengan topan, Linda rasakan takut juga rasanya. Linda boleh tinggal disini sampai mas Imam pulang kan mah???” tanya Linda

“Eeeehhhh mobil siapa itu?” tanyaku pada istriku ketika memberhentikan mobil didepan rumah

“Itu mobil kak Linda, tadi kak Linda nelpon, katanya mau tinggal sementara disini, suaminya lagi keluar kota urusan kerjaannya” jawab istriku

Akhirnya kamipun masuk rumah sesudah kembali dari rumah sakit untuk periksa. Sampai didalam rumah Linda menyambut Reva. Linda dan Reva memang sangat dekat.

Aku cuma memberikan senyum melihat Linda dan anaknya. Indah sekali tubuh Linda yang kukenal dulu tidak berubah meskipun sudah melahirkan seorang anak. Lekukan tubuhnya masih sangat aduhai menggoda dan selalu menarik perhatian meski dadanya kurang besar.

Sesudah makan malam, Reva berkata kalo dia mau kerumah Endah, tetangga kami. Ibu mertuaku pun menemaninya. Sementarea aku masih menyiapkan berkas untuk proyek kantorku yang baru.

Linda yang kelelahan duduk bersama anaknya menonton tivi yang gak jauh dari meja kerjaku. Linda hanya diam sambil sesekali kulihat kedipan matanya padaku. Tapi aku gak mempedulikannya karena aku fokus ke pekerjaanku.

“Topan sana main dulu sana, mamah mau mandi dulu” Ujar Linda pada anaknya

Sepertinya Topan paham, kemudian Linda bangun dan meninggalkan Topan sendirian sambil memintaku untuk mengawasi anak laki-lakinya itu. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang, nafasku gak karuan, dan dalam hati aku berpikir… “sendirian dirumah, bersama kakak iparku yang snagat menggoda, lagi pula sudah lama aku gak bercinta dengan Reva kerana dia sedang halangan, Linda mau pergi mandi, aaarghhh… nafsu laki-lakiku semakin bangkin dan bergairah…Aaaah, ngintip sebentar boleh lah”.


Akhirnya imanku gak kuat lagi menahannya. Aku-pun bangkit dari kursi kerjaku dan kulihat lampu kamar mandi menyala dan bunyi air keran membuat hatiku berdebar. Sementara Topan kutinggalkan bermain sendiri.

Sampai didepan pintu kamar mandi, kuambil sebuah kursi kemudian aku naik diatasnya agar aku bisa mencapai celah diatas pintu. Dan usahaku-pun berbuah hasil. Begitu aku melihat kedalam kamar mandi, kulihat tubuh putih dan mulus Linda basah disirami air. Linda menggosok tubuhnya dengan sabun. Melihat pemandangan syur itu seketika k0ntolku langsung tegang dan mengeras.

Sesudah cukup lama gak menyemprotkan cairan kenikmatanku, bisa kupastikan isinya sangat penuh. Darahku mengalir deras. Sesekali Linda menoleh kearah pintu, seolah dia merasakan adanya aku disitu. Kuhindari tatapan matanya. Selesai mandi, Linda membungkus tubuhnya dengan handuk dan aku buru-buru turun, kemudian mengembalikkan kursi ketempat semula dan aku bersembunyi.

Pintu kamar mandi terbuka perlahan kemudian Linda keluar menuju kamarnya. Linda mengintip keluar melihat keadaan anaknya, kemudian dia kembali menuju kekamarnya. Gak kudengar suara pintu dikunci yang membuat darahkua semakin bergejolak “Aaaarrrghh…” Nafsuku semakin melonjak.

Kemudian aku melangkah menuju kamar Linda. Kubuka sedikit demi sedikit dan mengintip lagi, tiba-tiba pintu ditarik dengan kasarnya.

“Angga, kamu ngapain disitu???” ujar Linda dengan wajah marah
Aku-pun kaget, dan merasa sangat malu.

“Eeeehhh…Nggak ngapa-ngapain kok Lind” jawabku sekenanya

“Lalu ngapain kamu ngendap-ngendap kayak gitu didepan pintu kamarku??” ujar Linda lagi dengan nada tinggi
Mata Linda keatas kebawah melihatku, sesekali berhenti dibagian bawah, entah apa yang diperhatikannya. Dan sejenak kami membisu saling diam.

“Kamu tadi ngintip aku mandi ya?” tanya Linda

“Eeemmbbb…maaf Lind, aku nggak tau kenapa aku jadi sampai kayak gini, sudah lama aku gak dapat jatah dari istriku. Jadi cuma mau cuci mata aja kok” jawabku untuk menenangkan Linda

Karena aku sudha sangat mengenal Linda, jadi aku tidak ingin berbohong. Aku berkata jujur dan kuharap Linda memaafkan perbuatanku. Pikirku dalam hati. Namun seketika aku juga dikagetkan karena Linda menyuruhku untuk masuk kedalam kamarnya.

“Sini masuk, duduk.. Memangnya sudah berapa lama kamu gak bersetubuh dengan Istrimu????” Tanya Linda menawarkan untuk masuk kedalam kamarnya dan dia duduk besebelahan denganku

“Yaaa sejak dia ada halangan untuk tidak berhubungan sex dulu itu. Dia gak mau, takut kalau kenapa-kenapa. Dokter juga menyuruh pelan-pelan soalnya rahim dia lemah” jawabku menjelaskan

Linda-pun tertawa mendengar ceritaku, kemudian sedikit memamerkan senyum manisnya dan lesung dipipinya.

“Aku juga sudah lama gak disetubuhi suamiku, Mas Imam kan anak tunggal, sesudah Topan lahir, katanya, cukup dia saja” kata Linda
Seolah Linda membuka celah pertahanannya yang sejenak membuat k0ntolku ngaceng dan mengeras lagi.

Berbicara dengan seorang wanita cantik dalam keadaan hanya mengenakan handuk dan aku hanya memakai kaos dan celana pendek. Cukup lama kami mengobrol, sepertinya Linda lupa dia meninggalkan anaknya dibawah. “Aah, ada peluang nih” pikirku.

Aku sangat hati-hati dalam berkata dan merangkai kata agar tidak keluar dari maksudku yang sebenarnya. Linda dan aku sangat dekat sehingga aku berani membicarakan hal-hal tentang sex dengannya. Kupandangi tubuh mulus Linda sekarang udah kering.

“Lalu, selama ini kamu kalau lagi pengen gimana Lind??? gak mau coba sama teman lamamu ini??? Adik ipar lagi” ujarku semakin berani

Linda kaget dengan ucapanku sambil tersenyum. Aku sudah menduga dia pasti menolak. Tapi lembut sekali tolakannya, mungkin Linda hanya malu. “Tenang, masih ada peluang” pikirku.

Tak pakai lama, tanganku langsung merayap ketelinganya sambil menyeka rambut basahnya. Linda mengelak-elak manja. Kemudian bibirku mulai hinggap dibibir Linda.

mulanya gak ada balasan, namun lama-lama akhirnya terasa tangannya mulai merangkul leherku dan bibirnya juga mulai liar. Lidah kami saling berpagutan dan nafas berganti nafas, handuk yang membungkus tubuhnya kini sudah kulepaskan. Sudah lama kubayangkan saat seperti ini bersama Linda.

Karena pinggangnya yang menggairahkan yang pasti membuat setiap laki-laki tidak bisa berkedip. Tubuh molek Linda tidak terdapat pada Reva, pinggangnya kurang berisi. Lagi pula Reva jauh lebih kurus berbanding Linda yang cukup montok namun gak gemuk. sungguh sempurna tubuh Linda ini, menurun dari ibu mereka, yaitu ibu mertuaku.

“Aaaahhhh…cukup Ngga, nanti kalau Reva sama mamah balik. Topan juga dibawah sendirian tuh… hhhhmmm…Sssshhhh…” rengek manja Linda meminta aku menghentikan perbuatanku

“Enggak!!!!” kesempatan seperti ini gak datang dua kali, dan nafsuku yang bergejolak belum terlampiaskan.

“Sebentar aja Lind, please… Topan gak apa-apa tuuuhh tadi” balasku dengan semakin mempererat pelukanku sambil tanganku merayap keselangkangannya. jembutnya dicukur sangat rapi, sungguh mengasyikkan sekali aku bisa mendaratkan jariku kedalam liang mem3k Linda.

“Hhhhheeeekk…Eehmmmm…Sssshh…” desah Linda menanhan kenikmatan permainan jariku di mem3knya

“Lind, puasin aku sekali ini aja, yaaahh…” pintaku sambil mengangkat tubuh Linda keatas kasur
Linda membetulkan rambutnya. Sampai diranjang, kubaringkan tubuh molek Linda. Aku gak peduli lagi istriku yang setia itu. Lama juga dia kerumah Endah. Tapi ya bagus lah, aku bisa mendapatkan kesempatan ini, pikirku.

“Ngga…Eegggkk…Hhmmm…Eenak…Ngga” desah Linda lagi

Aku tersenyum sambil menciumi leher jenjang Linda dan Linda pun juga tersenyum. Kulebarkan kakinya kemudian aku menyusup masuk. Celana pendekku sudah kulepas.

“Buka baju kamu dong Ngga” pinta Linda.
Tubuh tegapku terpampang didepan kakak iparku. k0ntolku yang tegang semakin rapat dengan lubang mem3k Linda.

“Lind…Aku masukin ya sayang” pintaku sambil mengecup bibirnya

Linda hanya tersenyum, lalu menjerit akibat tusukan batang k0ntolku didalam lubang m3meknya.

“Aaaahhhkkk…Oooouuuhhh…Eehhhmmbbb… pelan-pelan Ngga…Aaauuuuhhh…” Desah Linda merespon sodokan k0ntolku

“Gak papa Lind, keburu pada balik nanti…Aaaggghh….” balasku spontan

10 menit dengan gaya yang sama, aku-pun mulai berganti gaya. Kuminta Linda nungging, lalu kulanjutkan menyetubuhi kakak iparku itu dengan posisi doggy style. Aku semakin gencar menyetubuhi kakak iparku.

Sepertinya Linda sangat menikmatinya. Kemudian kuambil sex toys yang kubeli kemaren. Sengaja aku membelinya untuk kugunakan ke istriku. Kutusukkan dildo itu kedalam anus Linda.

“Aaauuuuhhhhh…Sssssssssshhh… sakit Ngga… jangan…” namun aku gak mempedulikan ucapan Linda

Linda meronta menolak tanganku yang asyik menyodok duburnya dengan dildo ditambah lagi dengan hujaman k0ntolku. Tiba-tiba Linda sengaja menyungkur, tubuh mulusnya mengejang, basah diatas kasur, yang menandakan kalo Linda mencapai nikmatnya.

“Aaggghhhh… udah Ngga, aku udah capek. Aku gak nyangka kamu bisa bikin aku puas kayak gini… gak seperti suamiku yang gak bisa bikin aku sepuas ini” puji Linda

“Lind, aku belum keluar nih… sebentar lagi ya…pleaseee” pintaku

“Mau dikeluarin didalem? Gila kamu, gimana kalau aku hamil nanti… jangan ah” balas Linda

“Janji gak keluar didalem kok” balasku

“Udahan aaahhh Ngga, udah pada mau balik tuh… aku juga udah capek” rayu Linda

Aku terkejut, tiba-tiba kulihat Topan sudah berada didepan pintu kamar. Dia memandang mamahnya sedang disetubuhin oleh pamannya. Namun aku gak peduli. Kuciumi manis bibir Linda, menyambung apa yang belum selesai. Kupaksa meskipun Linda coba menolak. Aku terpaksa kasar dengan kakak iparku sendiri. Dan Topan mulai menangis.

“Ngga, anakku nangis tuuuh…Aaahhhhh…Ooouuhhhhh…Sssshh…” desah Linda

“Sebentar lagi Lind…Aaahhh…Topan biar nunggu dulu” balasku dengan terus memompa m3mek Linda

“Cepetan Ngga…Eehmmm…Aaahhhh…”

“Liiiinnnddd…Aaaaaggghh…Aku sampai Liiinnnddd”

Pejuhku akhirnya kusemprotkan didalam lubang m3mek Linda… kami berdua puas. Linda menepuk badanku,

“Tadi katanya mau dikeluarin diluar…Hhmmm… ya udah lah… gak apa-apa” kata Linda

Terdengar suara pintu pagar terbuka. Sepertinya istriku dan ibu mertuaku sudah pulang. Kemudian aku-pun berpakaian lalu keluar kamar dan menyambut istriku.

Keesokan harinya, kulihat Linda didapur sambil menggendong Topan, kami hanya berbalas senyuman. Reva datang dan mengecup bibirku. Linda menggigit bibir melihat kami berciuman mesra. Cerita Dewasa , Cerita Sex, Cerita18+

Cerita Dewasa Janda Doyan Ngentot


Cerita Dewasa Janda Doyan Ngentot - Sebagai tetangga sebelah rumah, aku cukup akrab dengan semua anggota keluarga, sehingga aku bisa keluar masuk rumahnya dengan leluasa. Oh iya, sebelum aku lupa, Mbak Rasti ini orangnya hitam manis dengan payudara cukup besar. Entahlah, aku sendiri saat itu gak tau persis, karena masih “ingusan”. Yang aku tau, ukurannya cukup membuat anak seusiaku menelan ludah, kalau melihatnya.

Seperti orang Betawi jaman dulu pada umumnya, Mbak Rasti ini suka sekali, terutama kalau hari sedang panas, cuma pakai bra saja dan rok bawah. Mungkin untuk mendapatkan kesegaran. Nah aku seringkali melihat si Mbak dalam “mode” seperti ini. Usiaku saat itu sudah memungkinkan untuk bergairah melihat tonjolan payudaranya yang hanya ditutupi bra.

Tapi yang paling membuatku menahan nafas adalah bentuk dan goyangan pantatnya. Pinggul dan pantatnya bulat dan bentuknya “nonggeng” di belakang. Kalau berjalan, pantatnya bergoyang sedemikian rupa membuat gairah remajaku yang baru tumbuh selalu tergoda.


Pembaca, Mbak Rasti ini sudah tiga kali menjanda, dan semua warga kampung kami sudah tahu bahwa Mbak Rasti ini memang “nakal” sehingga gak ada pria yang betah berlama-lama menjadi suaminya. Mbak Rasti ini suka sekali menggodaku dengan mengatakan bahwa dia pengen sekali merasakan keperjakaanku.

Suatu kali, selepas maghrib, aku ke rumahnya. Tadinya aku ingin mengajak Udin, adiknya yang temanku untuk main. Aku masuk lewat pintu belakang karena memang sudah akrab sekali. Tapi di belakang rumahnya itu, ada Mbak Rasti yang sedang duduk di kursi dekat sumur.

Aku bertanya ke si Mbak, “Udin ada?”

“Kagak, dia ikut baba (Bapak) ama nyak (Ibu) ke Depok.” jawab si Mbak

“Wah, jadi Mbak sendirian dong di rumah?” tanyaku basa basi

“Iya, asyik kan? Kita bisa pacaran.” sahut si Mbak
Aku cuma tertawa, karena memang sudah biasa dia ngomong begitu

“Duduk dulu dong Wan, ngobrol ama Mbak ngapa sih.” katanya
Akupun duduk di kursi sebelah kirinya, si Mbak sedang minum anggur cap orangtua. Aku tahu dia memang suka minum anggur, mungkin itu juga sebabnya gak ada suami yang betah sama dia.

“Si Amir mana mbak?” tanyaku menanyakan anaknya
“Diajak ke Depok.” sahutnya pendek
“Mau minum nggak Wan?” dia nawarin anggurnya

Aku gak menolak, aku juga suka minum, cuma karena orang tuaku termasuk berada, biasanya aku hanya minum minuman dari luar negeri. Tapi saat itu aku minum juga anggur yang ditawarkan Mbak Rasti. Jadilah kami minum sambil ngobrol ngalor ngidul. Tak terasa sudah satu botol kami habiskan berdua. Dan aku mulai terpengaruh alkohol dalam anggur itu, namun aku pura-pura masih kuat, karena kulihat Mbak Rasti belum terpengaruh. Gengsi.

Aku mulai memperhatikan Mbak Rasti lebih teliti. Pandanganku tertuju ke toketnya yang hanya ditutupi bra hitam yang agak kekecilan. Sehingga toketnya seperti mau meloncat keluar. Wajahnya cukup manis, agak ke arab-araban, kulitnya hitam tapi mulus. Baru sekarang aku menyadari bahwa ternyata Mbak Rasti manis juga.

Rupanya pengaruh alkohol sudah mendominasi pikiranku.
Merasa diperhatikan si Mbak membusungkan dadanya, membuat k0ntol remajaku mulai mengeras. Dan dengan sengaja dia membuat gerakan menggaruk toket kirinya sambil memperhatikan reaksiku. Tentu saja aku belingsatan dibuatnya. Sambil menggaruk toketnya perlahan si Mbak bertanya.

“Wan kok bengong gitu sih?”

Bukannya kaget, aku yang sudah setengah mabok itu malah menjawab terus terang, “Abis tetek Mbak gede banget, bikin saya napsu aja.”

Eh, dia malah merogoh toket kirinya, terus dikeluarkan dari branya.

“Kalo napsu, pegang aja Wan. Nih,” katanya sambil mengasongkan toketnya ke depan

“Diemut juga boleh Wan.” tambahnya
Aku yang sudah mabok alkohol, semakin pusing karena ditambah mabok kepayang akibat tantangan Mbak Rasti.

“Boleh Mbak?” tanyaku lugu

“Dari dulu kan Mbak udah pengen buka “segel” Irwan. Irwannya aja yang jual mahal.” katanya sambil memegang kepalaku dengan tangan kirinya dan menekan kepalaku ke arah toketnya.

Aku pasrah, perlahan mukaku mendekat ke arah toket kirinya yang sudah dikeluarkan dari bra itu. Dan hidungku menyentuh pentilnya yang cokelat kehitaman. Segera aroma yang aneh tapi membuat kepalaku seperti hilang menyergap hidungku. Dan keluguanku membuat aku hanya puas mencium dengan hidungku, menghirup aroma toket Mbak Rasti saja.

“Waan.” tegur Mbak Rasti

“Apa Mbak?” tanyaku sambil menengadah

“Jangan cuma diendus gitu ngapa. Keluarin lidah Irwan, jilatin pentil Mbak, terus diemut juga. Ayo coba” Mbak Rasti mengajariku sambil kembali tangannya menekan kepalaku.

Aku menurut, kukeluarkan lidahku, dan kujilati sekitar pentilnya yang kurasakan semakin keras di lidahku. Dan sesekali kuemut pentilnya seperti bayi yang menyusu pada ibunya. Ku dengar Mbak Rasti mengerang, tangannya meremas rambutku dan berkata.

“Naah, gitu Wan. Terusin Waann. Gigit pentil Mbak Wan, tapi jangan kenceng gigitnya, pelan aja.” pinta si Mbak.

Akupun menuruti permintaannya. Kugigit pentilnya pelan, erangan dan desahannya semakin keras. Dengan lembut si Mbak menarik kepalaku dari toketnya, wajahku ditengadahkan, kemudian dia mencium bibirku dengan penuh gairah. Bibirku diemut dan lidahnya bermain dengan lincahnya di dalam mulutku.

Aku terpesona dengan permainan lidahnya yang baru sekali ini kurasakan. Getaran yang diberikan Mbak Rasti melalui lidahnya menjalar dari sekujur bibirku sampai ke seluruh tubuhku dan akhirnya masuk ke jantungku. Aku terbawa ke awang-awang.

Gak hanya itu, Mbak Rasti menjilati sekujur wajahku, dari mulai daguku, ke hidungku, mataku semua dijilat tak terlewat satu sentipun. Terakhir lidah Mbak Rasti menyapu telingaku, bergetar rasanya seluruh tubuhku merasakan sensasi yang Mbak Rasti berikan ini.

Sambil menjilati telingaku, tangannya menarik tanganku dan dibawanya ke toketnya, sambil membisikkan, “Remes-remes tetek Mbak dong Waann.” Aku menurutinya, dan kudengar desahan si Mbak yang membuatku semakin bergairah, sehingga remasanku pada teteknya juga semakin intens.

“Aauugghh.. Sshh.. Naahh gitu Wan.”

Kemudian diapun kembali menjilati daerah telingaku. Aku semakin terbuai dengan permainan Mbak Rasti yang ternyata sangat mengasyikkan untukku ini. Kemudian Mbak Rasti kembali menciumi bibirku, dan kami saling berpagutan.

Aku jadi mengikuti permainan lidah Mbak Rasti, lidah kami saling membelit, menjilat mulut masing-masing. Kembali kurasakan tekanan tangan Mbak Rasti yang membimbing kepalaku ke leher dan telinganya. Akupun melakukan seperti yang dilakukan Mbak Rasti tadi.

Kujilati telinganya, dan dia mendesah kenikmatan. Lagi, dia menekan kepalaku untuk mencapai teteknya yang semakin mencuat pentilnya. Aku mencoba mengambil inisiatif untuk memegang vaginanya. Tangan kiriku bergerak turun untuk menyentuh bagian paling intim Mbak Rasti. Tapi Mbak Rasti menahan tanganku.

“Nanti dong Waan, sabar ya sayaanng.” Aku sudah gemetar menahan gairah yang kurasakan mendesak di sekujur tubuhku.
“Mbak, Irwan pengen Mbak.” Pintaku

“Pengen apa Waan,” tanya Mbak Rasti menggodaku

“Pengen liat itu.” kataku sambil menunjuk ke selangkangan Mbak Rasti yang masih tertutup rok merah dari bahan yang tipis.

“Pengen liat vagina Mbak?” Mbak Rasti menegaskan apa yang kuminta

“Iya Mbak.” jawabku

“Itu sih gampang, tinggal Mbak singkapin rok Mbak, udah keliatan tuh.” kata Mbak Rasti sambil menyingkapkan roknya ke atas, sehingga terlihat celana dalamnya yang berwarna biru tua.

Dan kulihat segunduk daging di balik celana dalam biru tua itu. Aku menelan ludah dan terpaksa menahan untuk gak limbung. Sungguh luar biasa bentuk gundukan di balik celana dalam itu.

Aku memang baru pertama kali melihat gundukan vagina, tapi aku yakin kalo gundukan vagina Mbak Rasti sangat montok alias tembem sekali. Dan Mbak Rasti memang sengaja ingin menggodaku, dia menahan singkapan roknya itu beberapa lama, dan saat aku ingin menyentuhnya, dia kembali menutupnya sambil tertawa menggoda.


“Jangan disini dong Wan. Ntar kita digerebek lagi kalo ada yang tau.” kata Mbak Rasti sambil berdiri dan menuntun tanganku ke dalam rumahnya.

Bagai kerbau dicocok hidungnya akupun menurut saja. Aku sudah pasrah, aku ingin sekali merasakan nikmatnya Mbak Rasti. Dan yang pasti aku sudah telanjur hanyut oleh permainannya yang pandai sekali membawaku ke dalam jebakan kenikmatan permainan sorgawinya.

Mbak Rasti menuntunku ke kamarnya. Tempat tidurnya hanya berupa kasur yang diletakkan di atas karpet vinyl, tanpa tempat tidur. Kemudian Mbak Rasti mengajakku duduk di kasur. Kami masih berpegangan tangan.

Mbak Rasti melumat bibirku, dan kami berpagutan kembali. Kemudian Mbak Rasti menghentikan ciuman kami. Dia menatapku dengan tajam, kemudian bertanya.

“Wan, kamu bener-bener pengen ngeliat vagina Mbak?”

Aku mengangguk, karena pertanyaan ini membuatku gak bisa menjawab. Semakin mabok rasanya. Mbak Rasti kemudian melepaskan rok dan bra yang dipakainya dan sekarang tinggal celana dalamnya saja yang masih tersisa. Kembali aku menelan ludah. Dan pandanganku terpaku pada gundukan di balik celana dalam Mbak Rasti. Betapa montoknya gundukan vagina Mbak Rasti.

Kemudian Mbak Rasti berbaring telentang, kemudian dengan gerakan perlahan, Mbak Rasti mulai menurunkan celana dalam sehingga terlepaslah sudah. Aku yang masih duduk agak jauh dari posisi vagina Mbak Rasti cuma bisa menahan gairah yang menggelegak di dalam jantung dan hatiku.

Benar saja, vagina Mbak Rasti sangat tebal, dagingnya terlihat begitu menggairahkan. Dengan bulu yang lebat, semakin membuatku gak karuan rasanya.

“Katanya pengen ngeliat, sini dong liatnya dari deket Wan,” kata Mbak Rasti

“I iya Mbak,” sahutku terbata sambil mendekatkan wajahku ke selangkangan Mbak Rasti. Dia melebarkan kedua pahanya sehingga membuka jalan bagiku untuk lebih mendekat ke vaginanya

“Niih, puas-puasin deh liatin vagina Mbak, Wan.” kata Mbak Rasti

Setelah dekat, apa yang kulihat sungguh membuatku gak kuat untuk gak gemetar. Belahan daging yang kulihat ini sangat indah, berwarna merah, bulunya lebat sekali menambah keindahan. Di bagian atas, mencuat daging kecil yang seperti menantangku untuk menjamahnya. Aromanya, sebuah aroma yang aneh, namun membuatku semakin horny.

“Udah? Cuma diliatin aja? Nggak mau nyium itil Mbak?” pancing Mbak Rasti sambil dua jari tangan kanannya menggosok-gosok daging kecil yang mencuat di bagian atas vaginanya.

“Mm.. Mmau Mbak. Mau banget.” kataku antusias. Kemudian tangan Mbak Rasti menekan kepalaku sehingga semakin dekat ke vaginanya. “Ya udah cium dong kalo gitu, itil Mbak udah nggak tahan pengen Irwan ciumin, jilatin, gigitin.”

Dan bibirkupun menyentuh itilnya, kukecup itilnya dengan nafsu yang hampir membuatku pingsan. Aroma kewanitaan Mbak Rasti semakin keras menerpa hidungku.

Mbak Rasti mendesah saat bibirku menyentuh itilnya. Kemudian kejilati itilnya dengan semangat, gak hanya itilnya, tapi juga bibir vagina Mbak Rasti yang tebal itu aku jilati. Jilatanku membuat Mbak Rasti mengejang seraya mendesah dan mengerang hebat.

“Sshh.. Aarrgghh.. Gitu Waann.. Oogghh..”

Suara rintihan dan desahan Mbak Rasti membuatku semakin bergairah menjilati seluruh bagian vagina Mbak Rasti. Bahkan sekarang kumasukkan lidahku ke dalam jepitan bibir vagina Mbak Rasti. Tangan Mbak Rasti menekan kepalaku, sehingga wajahku semakin terbenam dalam selangkangan Mbak Rasti. Agak susah juga aku bernafas, tapi aku senang sekali.

Kumasukkan lidahku ke dalam lubang nikmat Mbak Rasti, kemudian ku jelajahi lorong vaginanya sejauh lidahku mampu menjangkaunya. Tiba-tiba, kurasakan lidahku seperti ada mengemut. Luar biasa, rupanya vagina Mbak Rasti membalas permainan lidahku dengan denyutan yang kurasakan seperti mengemut lidahku. Tubuh Mbak Rasti menggelinjang keras, pinggulnya berputar sehingga kepalaku ikut berputar.

Tapi itu gak menghentikan permainan lidahku di dalam jepitan daging vagina Mbak Rasti. Desahan Mbak Rasti semakin keras begitu juga dengan gerakan pinggulnya, aku semakin bersemangat menjilati, dan sesekali aku menjepit itilnya dengan kedua bibirku, dan rupanya ini sangat membuat Mbak Rasti terangsang, terbukti setiap kali aku menjepit itilnya dengan bibir, Mbak Rasti mengejang dan mendesah lebih keras.

“Sshh, aarrghhgghh, Wan, itu enak banget waan..”

Tapi, putaran pinggul Mbak Rasti terhenti, sebagai gantinya, sesekali dia menghentakkan pantatnya ke atas. Hentakan-hentakan ini membuat wajahku seperti mengangguk-angguk. Erangannya semakin keras, dan tiba-tiba dia menjerit kecil, tubuhnya mengejang, pantatnya diangkat keatas, sedangkan tangannya menekan kepalaku dengan kencang ke vaginanya. Dan kurasakan di dalam vagina Mbak Rasti ada cairan yang membanjir dan ada rasa gurih yang nikmat sekali pada lidahku.

Desahan Mbak Rasti seperti sedang menahan sakit. Tapi belakangan baru aku tahu bahwa ternyata Mbak Rasti sedang mengalami orgasme. Dan pantat Mbak Rasti berputar pelan sambil terkadang terhentak keatas, dan tubuhnya mengejang.

Sementara itu, cairan yang membanjir keluar itu ada yang tertelan sedikit olehku, tapi setelah aku tahu bahwa rasanya enak, akupun menjilati sisa cairan yang masih mengalir keluar dari vagina Mbak Rasti. Mbak Rasti kembali menggeliat dan mengerang seperti orang sedang menahan sakit.

Kepalaku masih terjepit dipahanya, dan mulutkupun masih terbenam di vaginanya. Tapi aku tak peduli, aku menikmati sekali posisi ini. Dan tak ingin cepat-cepat melepaskannya.

Tak lama kemudian, Mbak Rasti merenggangkan pahanya sehingga kepalaku bisa bebas lagi. Kemudian Mbak Rasti menarik tanganku. Aku mengikuti tarikannya, badanku sekarang menindih tubuhnya, kambali bibir kami berpagutan. Lidah saling belit dalam gelora nafsu kami.

Kemudian Mbak Rasti melepaskan ciumannya dan berkata, “Wan, terima kasih ya. Enak banget deh. Mbak puas. Ayo sekarang giliran Mbak.”

Mbak Rasti bangun dari tidurnya dan akupun duduk. Dia mulai membuka pakaianku dimulai dari kemejaku. Setiap kali satu kancing baju terlepas, Mbak Rasti mengecup bagian tubuhku yang terbuka.

Dan saat semua kancing sudah terlepas, Mbak Rasti mulai menjilati dadaku, pentilku disedotnya. Aku merasakan sesuatu yang aneh namun membuatku semakin bernafsu. Sambil menjilati bagian atas tubuhku, tangan Mbak Rasti bekerj membuka celana panjangku dan melemparkannya ke lantai. Sekarang aku hanya tinggal mengenak celana dalam saja. Mbak Rasti menyuruhku berbaring telentang. Aku menurut.

Kemudian celana dalam ku diperosotkannya melalui kakiku, aku membantu dengan menaikkan kakiku sehingga Mbak Rasti lebih mudah melepaskan celana dalamku. Dunia seperti terbalik rasanya saat tangan Mbak Rasti mulai menggenggam k0ntolku dan mengelus serta mengocoknya perlahan.

“Lumayan juga k0ntol kamu Wan. Gede juga, keras lagi.” celetuk Mbak Rasti.

Tak membuang waktu, Mbak Rasti segera menurunkan wajahnya sehingga mulutnya menyentuh kepala k0ntolku. Dikecupnya kepala k0ntolku dengan lembut, kemudian dikeluarkannya lidahnya, mulai menjilati kepala, kemudian batang dan turun ke.. Bijiku. Semua dilakukannya sambil mengocok k0ntolku dengan gerakan halus.

Lidahnya bergerak turun naik dengan lincahnya membuatku semakin gak terkendali. Aku mendesah dan mengerang merasakan kenikmatan dan sensasi yang Mbak Rasti berikan. Sungguh luar biasa permainan lidah Mbak Rasti.

Setelah beberapa lama, Mbak Rasti menghentikan lidahnya. Rupanya dia sudah merasa bahwa tingkat ereksiku sudah cukup untuk memulai permainan.

“Udah Wan, sekarang Irwan masukkin kontol Irwan ke vagina Mbak. Adduhh, Mbak udah nggak sabar pengen disiram sama perjaka. Biar Mbak awet muda Wan.” kata Mbak Rasti.

Aku tak mengerti maksud Mbak Rasti, tapi yang jelas, sekarang Mbak Rasti kembali tiduran dan menyuruhku mulai mengambil posisi di atasnya. Mbak Rasti melebarkan kedua kakinya sehingga aku bisa masuk di antara kakinya itu.

Kemudian Mbak Rasti memegang k0ntolku dan mengarahkannya ke vaginanya yang sudah menanti untuk kumasuki. Mbak Rasti meletakkan k0ntolku di depan vaginanya, kemudian berkata, “Nah, sekarang teken Wan.”

Aku gak menunggu lebih lama lagi. Segera kutekan k0ntolku memasuki kegelapan vagina Mbak Rasti. Kurasakan k0ntolku seperti dijepit daging yang sangat keras namun lembut dan kenyal, agak licin tapi sekaligus juga agak seret.

“Aagghh.. Pelan dulu Wan,” pinta Mbak Rasti.

Saat kepala k0ntolku sudah masuk, Mbak Rasti menggoyangkan pinggulnya sedikit, membuatku semakin mudah untuk memasukkan seluruh k0ntolku. Dan akhirnya terbenamlah sudah k0ntolku di dalam vaginanya. Jepitannya kuat sekali, namun ada kelicinan yang membuatku merasa seperti di dalam sorga. Kemudian Mbak Rasti terdiam. DIa berkonsentrasi agaknya, karena tahu-tahu kurasakan k0ntolku seperti disedot oleh vagina Mbak Rasti.

Ya ampuun, rasanya mau meledak tubuhku merasakan denyutan di vagina Mbak Rasti ini. K0ntolku seperti dijepit dan gak bisa kugerakkan. Seperti ada cincin yang mengikat k0ntolku di dalam vagina Mbak Rasti. Aku agak bingung, karena aku gak bisa bergerak sama sekali.

“Mbak, apa nih?” aku bertanya

“Enak nggak Wan?” tanya Mbak Rasti

“Iya Mbak, enak banget. Apaan tuh tadi Mbak?” aku kembali bertanya
Mbak Rasti gak menjawab, hanya tersenyum penuh kebanggaan. Kemudian Mbak Rasti melepaskan jepitan vaginanya pada k0ntolku.
“Sekarang kamu gerakin keluar masuk k0ntol kamu ya Wan.” perintah Mbak Rasti

Dan akupun mulai permainan sesungguhnya, kugerakkan k0ntolku keluar masuk di lorong kenikmatan Mbak Rasti. Setiap gerakan yang kubuat menimbulkan sensasi yang luar biasa, baik untukku maupun untuk Mbak Rasti.

Mula-mula pelan saja gerakanku, tapi lama-lama, mungkin karena nafsu yang semakin besar, gerakanku semakin cepat. Dan Mbak Rasti mengimbangi gerakanku dengan putaran pinggulnya yang mengombang-ambingkan tubuhku. Putaran pinggul Mbak Rasti membuat seperti ada yang mau meledak dalam diriku.

“Hhgghh.. Oogghh.. Sshh, Waann. Kamu jago banget waann..” desah Mbak Rasti

Aku gak tahu apa maksudnya, namun pujiannya membuatku semakin memacu “motor”ku menerobos kegelapan di lorong Mbak Rasti. Kemudian Mbak menghentikan putaran pinggulnya dan melingkarkan kakinya ke kakiku sehingga kembali aku gak bisa bergerak leluasa.

“Wan, sekarang kamu diem aja, kamu rasain aja mpot ayam Mbak.” perintahnya.
Lagi, aku tak tahu apa maksudnya, namun Mbak Rasti mencium bibirku dan lidahnya mengajakku berpagutan kembali.

“Mbak udah mau keluar lagi nih wan, kita barengin ya sayang, Mbak tanggung pasti enak deh.” kata Mbak Rasti.

Tubuh Mbak Rasti diam, namun kurasakan k0ntolku seperti dijepit dan dipijit dengan lembut, benar-benar luar biasa vagina Mbak Rasti. Kembali desakan lahar dalam diriku menuntut dikeluarkan. Dan denyutan vagina Mbak Rasti terus saja mengemuti k0ntolku membuatku merem melek. Dan akhirnya aku benar-benar gak kuat menahan lahar yang mendesak itu.

“Mbakk.. Adduuhh.. Sayaa..” aku gak dapat meneruskan kata-kataku, tapi Mbak Rasti rupanya mengerti bahwa aku sudah hampir mencapai klimaksku.

“Tahan Wan, Mbak juga mau nyampe nih, Barengin ya Wan.” kata Mbak Rasti.

Aku tak peduli, karena aku gak bisa menahannya, dengan erangan panjang, aku merasakan k0ntolku mengeras dan tubuhku mengejang. Kuhunjamkan k0ntolku dalam-dalam ke vagina Mbak Rasti, dan menyemburlah lahar yang sudah mendesak dari tadi ke dalam vagina Mbak Rasti.

“Mbaaaaaaaak.. Aagghh..”

Croott… Crroott… Mbak Rastipun menjerit kecil dan tubuhnya menegang, tangannya memeluk dengan kuat. Di dalam kegelapan vagina Mbak Rasti, semprotan air maniku bercampur dengan banjirnya air mani Mbak Rasti.

Aku tak bisa mengungkapkan bagaimana enaknya sensasi yang kurasakan. Pinggul Mbak Rasti bergetar, dan menghentak dengan kerasnya. Vaginanya berdenyut-denyut, enak sekali.

Banyak selaki lahar yang kumuntahkan di vagina Mbak Rasti, ditambah lahar Mbak Rasti, rupanya gak mampu ditampung semuanya, sehingga sebagian meleleh keluar dari vagina Mbak Rasti dan turun ke belahan pantatnya.

Lama kami berdiam dalam posisi masih berpelukan, k0ntolku masih terbenam di vagina Mbak Rasti. Tubuh kami bersimbah peluh, nafas kami masih memburu. Kemudian, Mbak Rasti tersenyum, kemudian menciumku.

“Kamu hebat banget Wan. Baru pertama aja udah bisa bikin Mbak puas. Gimana nanti kalo udah jago.” kata Mbak Rasti

“Mbak, Ma kasih ya Mbak. Enak banget deh tadi Mbak.” Kataku

“Sama-sama Wan, Mbak juga terima kasih udah dikasih perjaka kamu. Besok mau lagi nggak?” tantang Mbak Rasti

“Mau dong Mbak, siapa yang nggak mau vagina enak kayak gini.” jawabku sambil mengecup bibirnya. Dan kamipun kembali berpagutan.Cerita Dewasa, Cerita Sex, Cerita 18+

Cerita Dewasa Perawan Pegawai Salon


Cerita Dewasa Perawan Pegawai Salon - Panggil saja aku Weny, umurku 23 tahun. Aku bekerja di salah satu klinik kecantikan. Lulus SMA aku gak meneruskan pendidikanku. Bekerja mencari uang sudah jadi pilihanku. Banyak pengalaman kerja yang aku dapatkan dari yang menjadi pelayan toko penjaga konter semua sudah kurasakan. Pedihnya mencari uang untuk mencukupi kebutuhanku yang semakin hari semakin banyak.

Memenuhi kebutuhan rumah membantu ibuku yang hanya buruh cuci dan setrika. Aku memiliki satu adik yang masih bersekolah di bangku sekolah menengah pertama. Ayahku sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Ibuku tulang punggung keluarga jadi mau nggak mau aku harus membantu segala kebutuhan yang ada di rumah. Aku memiliki paras yang cantik kulitku juga putih.

Aku selalu mudah memperoleh pekerjaan, selain penampilanku aku juga pandai berbicara dan menarik perhatian orang. Namun kini aku bekerja di sebuah klinik kecantikan.

Padahal aku hanya lulusan SMA gak seperti teman-temanku yang pernah berkuliah dan memiliki pengalaman tentang perawatan wajah. Dulu awalnya interview dengan Pak Kevin yang punya Klinik kecantikan.

Aku memberanikan diri untuk mengirim lamaran di klinik tersebut. Ya aku PD aja percaya jika aku lolos dan bisa bekerja di klinik itu. Penampilanku yang rapi dan menarik perhatian itu membuat aku semakin percaya diri. Waktu interview selama 3 hari dan semua terlewatkan dengan sangat lancar. Apalagi saingan aku wajah dan penampilannya jauh berbeda denganku.

Aku lebih cetar tentunya, setiap kali datang interview semua orang selalu saja memandangiku dari atas hingga ke bawah. Hari ke-3 itu penentuan diterima atau gaknya. Dan saat itu harus berhadapan dengan pemilik klinik yaitu Pak Kevin. Ntah kenapa biasanya aku dapat nomor awal tetapi ini paling akhir. Aku menunggu berjam-jam namun aku harus tetap sabar.

Satu persatu masuk untuk wawancara langsung dengan pemilik klinik itu. Kira-kira 30 0rang sudah memasuki ruangan itu. Masih tersisa 10 lagi rasanya udah kucel make-up ku. Aku bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan memakai make-up kembali supaya Fresh. Seger rasanya udah nggak lengket lagi dan kembali dengan ke-PD an ku,

“nona Weny ….” Terdengar suaraku dipanggil dengan lantang

Aku memasuki ruangan yang hanya ada Pak Kevin pemilik klinik. Ketika awal masuk aku berjabat tangan dengannya, tampak wajahnya memandangiku dengan sedikit aneh. Memegang tangangku juga lama sekali setelah itu aku duduk dan diamelepaskan tanganku,

Ketika aku duduk dia masih saja memandangiku dengan tajam. Pria yang kira-kira ber umur 35 tahun itu sepertinya aneh karena selalu memandangiku dengan penuh makna. Aku hanya menundukkan kepala saja, pakaian yang aku kenakan memang seksi sesuai kriteria yang diinginkan. Mungkin dia terpesona dengan kecantikan ku,

“Dengan mbak Weny ya, cantik sekali…”

“Iya pak..hhe terimakasih pak…”

Sekitar 30 menit pak Kevin mewawancarai aku. anehnya lagi pertanyaannya gak sesuai dia bertanya yang menurutku gak begitu penting. Karena lebih kepada kepribadiank namun aku tetap menjawab semua pertanyaannya dengan baik. Sorotan matanya begitu tajam, aku semakin gak mengerti apa yang dia pikirkan. Aku memang berpenampilan sexy dengan lipstick yang merah merona.
Penampilan yang sangat pas jika bekerja di klinik ini,

“Mbak Weny sebenarnya untuk ada satu lagi sessionnya, yaitu cek kesehatan. Disini banyak berhadapan dengan pasien yang berbeda-beda keluhannya. Alat yang digunakan juga gak sembarang alat. Takutnya kesehatan mbak Weny kurang mendukung..”
“Oh gitu ya pak.. saya nurut saja pak yang penting saya bisa diterima sebagai karyawan disini..”

“Silahkan berbaring di tempat tidur yang sudah disediakan saya cuci tangan terlebih dahulu ya mbak…”

Ternyata pas aku lihat papan namanya pak Kevin itu seorang dokter. Pantes aja dia mau ngecek kesehatan tubuhku. Aku langsung saja berbaring ditempat tidur itu. Pak Kevin gak kunjung datang aku gelisah kedinginan ACnya terasa banget. Terdengar pak Kevin sedang mengunci pintu dan kemudian mendekati aku,

“Sebelumnya maaf ya mbak..,” tangan pak Kevin membuka kancing bajuku

Kala itu aku memakai kemeja, jas ketat dan rok mini. Toketku yang besar terlihat menonjol dan aku memakai rok yang sangat mini. Dia membuka kancing bajuku yang paling atas dan memasukkan stetoskop dia sentuh-sentuh dadaku dengan alatnya itu. Terus dia menekan alatnya, heran ngeceknya kok lama sekali. Semakin kebawah mengenai toketku aku merasa geli.

Aku juga pernah periksa ke dokter tapi ini kok lama sekali. Pak Kevin sepertinya ada maksud lain,

“Seksi, putih, bersih dan kenyal…” ucap pak Kevin

“Maksdunya pak????????”

“Kamu sexy aku suka deh sama kamu…” tangannya membelai wajahku

“Apa-apaan ini pak jangan seperti ini pak…” ucapku dengan ketakutan

“Udah nurut aja sama bapak nanti kamu pasti saya terima sebagai karyawan disini…”

“Jangan pak..jangan lakukan ini…”

Tampaknya Pak Kevin gak menghiraukan perkataanku. Dia langsung mendekati dan wajahnya berada didepan wajahku. Aku tampak ketakutan dengan wajah ganas pak Kevin. Bibirnya semakin dekat dengan bibirku dan akhirnya dia mengecup bibirku.

Aku gak bisa menolaknya karena saat itu aku ketakutan dan yang ada dipikiranku aku harus bekerja disini. Terpaksa aku hanya terdiam sementara bibirku terus di kulum dengan lembut. Sesekali kepalaku bergerak dan ciuman itu lepas , namun pak Kevin menarik wajahku kembali dia menciumi bibirku.

Tangannya membuka kancing bajuku yang masih tertutup. Posisisex.com Dari atas hingga ke bawah sehingga aku gak mengenakan baju. Dinginny ruangan membuat aku badanku terasa kaku. Sepertinya dia sengaja membuat ruangan ini dingin,
“Tenang saja Weny malam ini aku akan menghangatkan tubuhmu…”

Aku masih saja terdiam, kemudian pak Kevin meraba toketku. Kedua tangannya meraba-raba toketku hingga tubuhku bergetar karena sangat geli. Lalu dia mendekatkan wajahnya di depan kedua toket dan langsung saja menciumi dengan penuh kenafsuan,

“Aaaaaahhhhhh pak….aaaahhhhhhh……”

Aku sedikit mendesah karena merasakan kenikmatan. Sebelumnya aku pernah melakukan hubungan seks dengan mantan pacar aku. Lama-lama aku merasakan kenikmatan dengan berbagai belaian pak Kevin. Tanpa perlawanan apapun aku hanya terbaring dengan manja. Pak Kevin berada diatasku sebelumnya ida melepas pakaiannya.

Walaupun sudah berumur pak Kevin tampak gagah ketika gak mengenakan baju. Aku lihat kulitnya juga bersih mulus semulus kulitku. Aku lihat k0ntol pak Kevin mulai tegak ketika dia hanya mengenakan celana dalam. Ntah aku juga horny saat itu melihat ke gagahan pak Kevin. Setelah itu pak Kevin langsung saja membuka bra ku dan langsung menciumi toketku.

Putting susuku dijilati dengan lidahnya. Tubuhku semakin bergetar dibuatnya melayang,

“Aaahhhhhhhh….aaaaaaaahhhhhhh….pak….aaaahhhhh…..ooohhh….aaahhhhh……”

Kedua toketku dijilati hingga aku lemas kemudian dia mengulumnya. Seperti bayi yang menyusu ibunya pak Kevin begitu beringas,

“Aaaaagggghhhhhhh…..pak……ooohh…..aaaggghhh….oohhhhh…paaakkk….aaagghhhh….”

Desahan yang bisa aku ucapkan terus dia mencoba membuat aku semakin horny. Tubuhku dibelai dengan sangat lembut dan bibirnya semakin turun kebawah. Pusarku diciumi tubuhku semakin menggeliat manja,

“Aaahhhhh…pak……aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh……”

Lalu dia meraba melepaskan rok miniku secara perlahan. Tangannya meraba-raba vaginaku dari atas hingga ke bawah. Aku semakin tak kuasa menahan hawa nafsu yang sangat memuncak itu. Vaginaku terlihat dengan sedikit bulu jembutku. Jemarinya membuka lipatan demi lipatan vaginaku aku mendesah keras,

“Aaaaaaaaaaahhhhhhhhh……pak…..aaaaaaaahhhhh nikkmaaatt ahhhh….”

Jemarinya menyusuri bagian demi bagian dan akhirnya salah satu jarinya bisa masuk kedalam lubang vaginaku. Jarinya berhasil masuk dan berputar-putar didalam aku merasaka kenikmatan hingga mengluarkan cairan dari vaginaku,

“Oooohhhh…aaahhh…..aaaaaaahhh….ooohh…..aaaaaakkkhhh…lagi pak….aaaahhhh”

K0ntol pak Kevin memanjang dan siap untuk beraksi. Tampak dia melepaskan jemarinya dan mendekatkan k0ntol tepat didepan mulutku. Dia meminta aku mengulum k0ntol besarnya. Aku memasukkan k0ntol itu ke dalam mulut dan aku kulum dengan lembut,


“Ooohhh enak sekali….aaahhh lebih masukkk lagi aaaaahhhhh….”

Tangan pak Kevin menekan kepalaku agar lebih menunduk dan seluruh k0ntolnya mausk ke dalam mulutku. Sambil aku kocok k0ntolnya dia tampak merasakan kenikmatan yang lebih. Dengan tiba-tiba dia melepas k0ntolnya dan dia gesek-gesekkan di vaginaku. Perlahan dia masukkan k0ntolnya ked alma lubang kenikmatanku.

Perlahan tapi pasti karena sudah gak perawan lagi vaginaku mudah untuk dimasuki,

“Aaahhhhhhh…..aaaahhhhh…..aaaaahhh………”

Dia menekan k0ntolnya agar masuk kedalam vaginaku. Masuklah seluruh batang k0ntol pak Kevin ke dalam vaginaku. Dia menekan terus k0ntolnya hingga mentok ke dalam vaginaku,

“Aaaahhhh…oohhh aakkkhbhhh pak….aaaahhh…ooohhh…terus pak….”

Kakiku diangkat ke atas dan mengangkang lebar. K0ntolnya keluar masuk membuat aku semakin memuncak. Tangan pak Kevin gak henti-hentinya meremas toketku dengan keras. Tubuhku menggeliat manja saat itu. Gerakan semakin keras k0ntol seras gak bisa keluar lagi, tertancap di dalam vaginaku. Keringat bercucuran dingin berubah menjadi kehangatan,

“Ooohhhhh….aaahhh….ooohhh…aahhh…ooohhhhhhhhhh………”

Aku beberapa kali mengeluarkan cairan dari vaginaku. Terlihat sangat basah aku sangat merasakan kenikmatan yang lebih. Tak lama kemudian pak Kevin menegeluarkan pejuhnya,

“Cccccrrrrooooootttt….ccccrrrrooooootttt…..cccrrrrooootttt………”

Pejuh itu keluar dan dia semprotkan dibibir dan tubuhku. Aku menelan sedikit pejuh yang menempel di bibirku. Tubuhku banyak pejuh sehingga terasa sangat lengket. Aku segera bangun dan membersihkan tubuhku sembari menggunakan pakaian kembali.

Akupun dipastikan bekerja di klinik itu dengan gaji yang lumayan. Sejak saat itu aku dan pak Kevin sering melakukan hubungan seks dan kemudian aku diberi uang olehnya. Cerita Dewasa, Cerita sex, Cerita 18+

Cerita Dewasa Burung Perjaka Anakku


Cerita Dewasa Burung Perjaka Anakku - Arisan ibu-ibu selalu saja memiliki gosip yang berbagai ragam. Mulai dari gosip berlian, gosip hutan piutang, bahkan gosip seks. Kali ini aku terkejut sekali, ketika seorang teman membisikkan padaku, kalau Ibu Ema itu, suka rumput muda. Justru yang dia sukai adalah laki- laki belasan tahun. Rasany aku kurang percaya. Ap ia? Bu Ema yang sudah berumur lebih 50 tahunmasih doyan laki-laki belasan tahun?

“Woalaaah…Bu Hilda masya enggak percaya sih?” kata Bu Lina lagi. Aku sudah janda hampir 15 tahun, sejak perkimpoian suamiku dengann istri mudanya. Aku tak nuntut apa-apa, keculi Roni putra tunggalku harus bersamaku dan rumah yang kami benagun bersama, menjadi milikku.

Aku sakit hati sekali sebenarnya. Justru perkimpoian suamiku, karena katanya aku gak bisa melahirkan lagi, sejak peranakanku diangkat, ketika aku dinyatakan terkena tumor rahim. Suamiku mengakui, kalau permainan seksku masih sangat Ok. Dalam umur 37 tahun, aku masih keliahatan cantik dan seksi.

“Lihat tuh, Bu Hilda. Matanya asyik melirik anak bu Hilda terus tuh,” kata Bu Salmah tetanggaku itu. Kini aku jadi agak percaya, ketika aku melihat dengan jelas, Bu Ema mengedipkan matanya ke putra tunggalku Roni. Rasanya aku mau marah, kenapa Bu Ema mau mengincar putraku yang masih berumur hampir 15 tahun berkisar 12 hari lagi.

Sepulang dari arisan, aku sengaja mendatangi tetangga yang lain dan secara lembut menceritakan apa yang diceritakan Bu Salmah kepadaku. Tetanggaku itu tertawa cekikikan. Dari ceritanya, suami bu Ema sudah tak sanggup lagi, bahkan suaminya sudah tahu kelakuannya itu.

Bu Ema memang suka k0ntol muda, kata mereka. Bahkan putra tetanggaku titu pernah digarap oleh Bu Ema. Karean malu ribut- ribut, lagi pula anaknya yang sudah berumur 18 tahun dibiarkan saja.

“Laki-laki kan enggak apa-apa bu. Kalau anak perempuan, mungkin perawannya bisa hilang. Kalau anak laki-laki, siapa tahu perjakanya hilang,” kata tetanggaku pula.

Bulu kudukku berdiri, mendengarkan celoteh tetanggaku itu. Aku kurang puas denga dua informasi itu. Aku bertandang lagi ke tetanggaku yang lain masih di kompleks perumahan …..(Dirahasiakan) Indah. Tetangku itu juga mengatakan, kalau itu soal biasa sekarang ini. Malamnya aku ngobrol-ngobrol dengan putraku Roni.

Roni mengatakan, kalau Tante Ema sudah mengodanya. Bahkan sekali pernah menyalaminya dan mempermainkan jari telunjuknya di telapak tangan putraku. Pernah sekali juga, kata putraku, Tante Ema mengelus k0ntol putraku dari balik celananya, waktu putraku bermain ke rumah Tante Ema.

Aku sangat terkejut sekali mendengar pengakuan putraku Roni menceritakan tingkah laku Bu Ema. Tapi tetanggaku mengatakan, itu sudah rahasia umum, dan kini masalah itu sudah biasa. Bahkan tetanggaku mengajakku untuk berburu k0ntol muda bersama-sama.

Malamnya aku tak bisa tidur. AKu sangat takut, kalau putraku akan menjadi korban dari ibu-ibu di kompleks itu. Sudah sampai begitu? Semua sudah menjadi rahasia umum dan tak perlu dipermasalahkan? Lamat-lamat aku memperhatikan putraku. Trnyata dia memang ganteng seperti ayahnya. Persis fotocopy ayahnya. Walau masih 15 tahun, tubuhnya tinggi dan atletis, sebagai seorang pemain basket. Gila juga pikirku.

Rasa takutku marah-marah kepada Bu Ema, karean aku juga mungkin pernah dia lihat berselingkuh dengan teman sekantorku. Mungkin itu akan jadi senjatanya untuk menyerangku kembali, pikirku. Hingga aku harus menjaga anak laki-lakiku yang tunggal, Roni.

Ketika Roni pergi naik sepeda mootr untuk membeli sesuatu keperluan sekolahnya, aku memasuki kamarnya. Aku melihat majalah- majalah porno luar negeri terletak di atas mejanya. Ketika aku menghidupkan VCD, aku terkejut pula, melihat film porno yang terputar. Dalam hatiku, aku haru semnyelamatkan putraku yang tunggal ini.

Sepulangnya dari toko, aku mengajaknya ngobrol dari hati ke hati.

“Kamu kan sudah dewasa, nak. Mami gak marah lho, tapi kamu harus jawab sejujurnya. Dari mana kamu dapat majalah-majalah porno dan CD porno itu,” kataku. Roni tertunduk. Lalu menjawab dengan tenang dan malu-malu kalau itu dia peroleh dari teman-temannya di sekolah.

“Mama marah?” dia bertanya. AKu menggelengkan kepalaku, karena sejak awal aku mengatakan, aku gak akan marah, asal dijawab dengan jujur. AKu harus menjadikan putra tunggalku ini menjadi teman, agar semuanya terbuka.

“Kamu sudah pernah gituan sama perempuan?” tanyaku

“Maksud mami?”

“Apa kamu sudah pernah bersetubuh dengan perempuan?” tanyaku lagi.


Menurutnya secara jujur dia kepingin melakukan itu, tapi dia belum berani. Yang mengejutkan aku, katanya, minggu depan dia diajak kawan- kawannya ke lokalisasi PSK, untuk cari pengalaman kedewasaan. Aku langsung melarangnya secara lembut sebagai dua orang sahabat. Aku menceritakan bagaimana bahaya penyakit kelamin bahkan HIV-AIDS. Jika sudah terkena itu, maka kiamatlah sudah hidup dan kehidupannya.

“Teman-teman Roni, kok enggak kena HIV, MI? Padahal menurut mereka, merekaitu sudah berkali-kali melakukannya?” kata putraku pula.

Ya ampun….begitu mudahnya sekarang untuk melakukan hal sedemikian, batinku.

“Pokoknya kami gak boleh pergi. Kalau kamu pergi, Mami akan mati gantung diri,” ancamku

“Tapi Mi?”

“Tapi apa?”

“Roni akan kepingin juga. Katanya nikmat sekali Mi. Lalu bagaimana dong? Roni kepingin Mi. Katanya kalau belum pernah gituan, berarti belum laki-laki dewasa, Mi?” putraku merengek dan sangat terbuka.

Aku merangkul putraku itu. Kuciumi keningnya dan pipinya denga penuh kasih sayang. Aku tak ingin anakku hancur karean PSK dan dipermainkan oleh ibu-ibu atau tante girang yang sering kudengar, bahkan oleh Bu Ema yang tua bangka itu.

Tanpa terasa airmataku menetes, saat aku menciumi pipi putraku. Aku memeluknya erat-erat. Aku akan gagal mendidiknya, jika anakku semata wayang ini terbawa arus teman-temannya ke PSK sana.

“Kamu benar-benar merasakannya, sayang?” bisikku

“Iya Mi,” katanya lemah.

Aku merasakan desahan nafasnya di telingaku.

“Yah…malam ini kita akan melakukannya sayang. Asal kamu janji, gak mengikuti teman-temanmu mencari PSK” kataku tegas

“Berarti aku sama dengan Tony dong, Mi?”

“Tony? Siapa Tony?” tanyaku ingin tahu, kenapa dia menyamakan dirinya dengan Tony.

Menurut cerita Roni putraku, Tony juga dilarang mamanya mengikuti teman-temannya pergi mencari PSK, walau Tony sudah sempat juga pergi tiga kali bersama teman-teman sekelasnya. Untuk itu, secara diam-diam Tony dan mamanya melakukan persetubuhan. Katanya, Tony memakai kondom, agar mamanya gak hamil. Aku terkejut juga mendengarnya.

“Kamu gak perlu memakai kondom, sayang. Mami yakin, kalau mami gak akan hamil,” kataku meyakinkannya.

Seusai makan malam, Roni tak sabaran meminta agar kami melakukannya. AKu melihat keinginan putra begitu mengebu-gebu.

Mungkin dia sudah pengalaman melihat VCD Porno dan majalah porno pikirku. AKu secepatnya ke kamar mandi mencuci memekku dan membuka BH dan celana dalamku. AKu memakai daster miniku yang tipis.

Dikamar mandi aku menyisiri rambutku serapi mungkin dan menyemprotkan parfum ke bagian-bagian tubuhku. Aku ingin, putraku mendapatkan yang terbaik dariku, agar dia gak lari ke PSK atau tante girang. Putraku harus selamat. Ini satu-satunya cara, karea nampaknya dia sudah sulit dicegah, pengaruh teman-temannya yang kuat.

Jiwanya sedang labil-labilnya, sebagai seorang yang mengalami puberitas. Begitu aku keluar dari kamar mandi, putraku sudah menanti di kamar. Dia kelihatan bingung melihat penampilanku malam ini. Gak seperti biasanya.

“Kamu sudah siap sayang,” kataku.

Putraku mengangguk. Kudekati dia. Kubuka satu persatu pakaiannya. Kini dai telanjang bulat. AKua melapaskan dasterku. Aku juga sudah telanjang bulat. Aku melihat putraku melotot mengamati tubuhku yang telanjang. Mungkin dia belum pernah melihat perempuan telanjang sepertiku di hadapannya. Aku duduk di tempat tidur.

Kutarik tangannya agar berdiri di sela-sela kedua kakiku. Aku peluk dia. Aku kecip bibirnya dengan mesara. Pantatnya kusapu-sapu dengan lembut, juga punggungnya. Dengan cepat terasa k0ntolnya bergerak-gerak di perutku. Kujilati lehernya.

dia mendesah kenikmatan. Lidahku terus bermain di pentil teteknya. Lalu menjalar ke ketiaknya dan sisi perutnya. Aku merasakan tangan anakku mulai memagang kepalaku.

Kuperintahkan dia untuk duduk di pangkal pahaku. Kini dia duduk di pangkal pahaku, dengan kedua kakinya bertumpu ke pinggir tempat tidur. Tiba-tiba aku merebahkan diriku ke tempat tidur. dia sudah berada di atasku. Kuminta agar dia mengisap puting susuku. Mulutnya mulai beraksi. Sementara k0ntolnya terasa semakin keras pada rambut memekku.

Dengan cepat pula, kurebahkan dirinya. Kini aku yang balik menyerangnya. Kujilati sekujur tubuhnya. Batang k0ntolnya, telur yang menggantung di pangkal k0ntolnya. Ku kulum k0ntolnya dan kupermainkan lidahku pada k0ntol itu.

“Mami…geli,” putraku mendesah.

“Tapi enakkan, wayang,” tanyaku.

“Enak sekali Mi,” katanya.

Aku meneruskan kocokanku pada k0ntolnya. Dia menggelinjang-gelinjang. Kuteruskan kucokanku. Kedua kakinya menjepit kepalaku dan…croot.croot.crooooooot! Pejuhnya keluar. Kutelan sepermanya dan kujilati batangnya agar pejuhnya tak tersisa. Aku senagaja memperlihatkannya kepadanya.

Kini dia menjadi lemas. Terlalu cepat dia keluar. Mungkin sebagai pemula, dia tak mampu mengontrol diri. Kuselimuti dirinya. 20 menit kemudian, setelah nafasnya normal, aku memberinya air minum segelas. Lalu aku membimbingnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kusabuni k0ntolnya dan kulap pakai handuk. Kini kami sudah terbaring berdua di tempat tidur.

“Enak sayang?” tanyaku.

Dia menagngguk, “Tapi Mi, kita kan belum begituan. Katanya kalau begituan, k0ntol Roni masuk ke lubang mem3k Mami,” katanya polos.

Aku menganguk, “Kamu harus segar dulu Nanti kita ulangi lagi, Nanti kamu boleh memasukkannya ke lubang v4gina Mami” kataku.
“Kenapa nanti Mi? Kenapa gak sekarang?” dia mendesak.

Dia sudah begitu menginginkannya pikirku. Langsung kulumat bibirnya. Kujulurkan lidahku ke dala mulutnya. Dia langsung meresponsnya. Kini dia berganti memberikan lidahnya padaku. Aku mengemutnya dengan lembut. Tanganku terus membelai-belai tubuhnya dan k0ntolnya kuelus- elus. Sebentar saja k0ntol itu bangkit.

“Naiki Mami, sayang,” kataku.

Dia naik ke tubuhku, “Masukkan,” pintaku.

Dia mencari-cari lubangku. Kuarahkan k0ntolnya dengan tanganku. Setelah k0ntol itu terasa di tengah bibir memekku, kuminta dia menekannya. Dia menakan k0ntolnya dan langsung masuk, karean memekku sudah basah.

Aku memang sudah sangat lama merindukan ada k0ntol memasuki memekku. Setelah terhenti 5 tahun perselingkuhanku dengan seorang duda teman sekantorku (sejak dia pindah) aku tak pernah lagi selingkuh. K0ntol yang besarnya cukup itu, terasa sudah mengganjal di liang memekku. KUkangkangkan kedua kakiku.

Aku membiarkan k0ntol itu tenggelam di dalamnya. Tak lama kemudian, aku merasakan putraku sudah mulai menarik-cucuk k0ntolnya. Aku biarkan saja, walaupun sebenarnya aku sudah agak gatal ingin meresponsnya. Lama kelamaan, aku tak tahan juga. Aku pun meresponnya dengan hati-hati, seakan aku hanya melayaninya saja, bukan karean kebutuhanku.

Sambil memompa k0ntolnya, kuarahkan mulutnya untuk mengisap-isap pentil payudaraku. Dia melakukannya. AKu sudah melayang di buatnya. Sudah lama sekali aku gak merasakan kenikmatan itu, sementara umur yang 37 tahun, masih membutuhkannya. Kujepit kedua kakiku ke tubuh putraku. Aku orgasme dengan cepat. Aku gak memperlihatkan, kalau aku sudah orgasme. Perlahan-lahan aku tetap meresponsnya, sampai aku normal kembali.

“Jangan digenjot dulu, sayang. Mami Capek. Isap saja tetek mami, sayang,” pitaku.

Aku tak ingin dia sudah orgasme, sementara aku masih jauh. Dia menjilati tetekku dan mengisap-isapnya. Atas permintaanku, sekali-sekali dia juga menggigit putingku. Libidoku bangkit. Aku mulai melayang.

Aku mulai menggoyang tubuhnya dari bawah. Dia merespons dengan kemabli menggejotku, menarik dan mencucuk k0ntolnya ke dalam liang memekku. Aku mendengar, suara begitu becek pada memekku. Aku sedikit malu, karena selama ini, aku sudah gak merawat lagi memekku. Tapi dia semakin semangat mengocokkan k0ntolnya.

“Mami…aku sudah mau keluar nih…” katanya.

Saat itu aku juga sudah mau muncrat. Aku percepat goyanganku, agar aku lebih dulu sampai pada puncak kenikmatan itu. Dan…dia memelukku erat sekali. Bahuku digigitnya dan sebelah tangannya mencengkeram rambutku. Ternyata kami bisa sama-sama sampai. Aku masih mampu mengatur irama permainan ini, pikirku.

Aku keringat dan putraku juga berkeringat. Perlahan dia ku baringkan ke sisiku dan aku menyelimuti tubuh kami dengan selimut tipis, sekaligus melap tubuh kami dari keringat. Setelah 15 menit aku bangkit dan meneguk segelas air putih. Segelas kuberikan kepdanya.

Roni berjanji untuk merahasiakan ini kepada siapa saja, termasuk kepada teman dekatnya. Walau menurut Roni, temannya sudah berhubungan dengan beberapa wanita di lokalisasi PSK, namun behubungan dengan ibunya jauh lebih nikmat. Aku juga memberi yang terbaik buat putraku, demi keselamatan hidupnya, terhidar dari PSK dan tante girang.

Aku menyangupi, memberinya cara lain bermain seks, seperti yang dia lihat di CD porno dan majalah-majalah, seperti doggystyle dan sebagainya. Malam itu, Roni juga bersumpah, gak akan pergi mencari PSK, walau pun teman-temannya menuduhnya laki-laki Kuper dan ketinggalan zaman, karea dia sudah mendapatkannya dariku dengan baik.

Sejak saat itu, kami selalu melakukannya secara teratur, gak serampangan. Tenatu saja di tempat tidur, di dapur, di sofa dan tempat-tempat lai di rumah kami dengan suasana yang indah. Bahkan kami pernah juga melakukannya di hotel, ketika kami wisata ke bogor. Semua orang memuji kegantengan putraku yang wajahnya imut-imut dan manja itu.

Kini putraku sudah SMA, AKu sudah persis 40 tahun. Orang bilang aku masih tetap cantik, karean aerobik. Sebeanranya, selain aerobik, aku juga melakukan hubungan seks yang sangat teratur. Cerita Dewasa, Cerita Sex, Cerita18+

Cerita Dewasa Digoyang Mbak Nila


Cerita Dewasa Digoyang Mbak Nila - Cerita ini terjadi waktu aku masih berusia 14thn. Walau cerita ini udah lama terjadi, tapi peristiwa ini masih membekas dipikiranku. Tentu aja masih membekas, soalnya peristiwa inilah yang membentuk aku jadi maniak seks seperti sekarang.

Mbak Nila adalah keponakan jauh ibuku yang ikut tinggal dirumahku. Ya, dia ikut keluargaku sebab keluarganya kurang beruntung. Dia ikut keluargaku sejak kelas dia 2 SMP. Kejadian ini terjadi saat mbak Nila duduk di kelas 3 SMA.

Mbak Nila adalah seorang perempuan yang sangat menarik. Wajahnya cantik, rambutnya panjang, kulitnya putih dan bodynya… hmmm.. masih tergambakr jelas bodynya yang aduhai.

 Aku masih ingat bagaimana dulu aku sering sekali memelototi dadanya yang ranum. Sebenarnya dadanya gak terlalu besar, tapi membusung kedepan, benar-benar bulat sempurna. Aku juga senang sekali memperhatikan lekukan pinggangnya yang seperti gitar spanyol itu, pantatnya yang membulat dan pahanya yang putih.

Apalagi kalau dia memakai celana pendek favoritnya, terlihat jelas paha mulusnya dan betis bulir padinya yang aduhai. Hmmm…. Pantas saja banyak teman prianya yang mengejar-ngejarnya.

Kejadian ini terjadi waktu aku tinggal berdua denga mbak Nila dirumah. Bapakku seperti biasa pergi ke kantor dan ibuku pergi kerumah temannya dengan membawa adikku yang masih kecil. Awalnya aku bermain diluar bersama teman-temanku, tapi karena turun hujan akhirnya aku pulang kerumah dan tinggal berdua dengan mbak Nila.


Dari pada gak ada kerjaan, aku menonton tv. Selagi asik menonton kartun di tv swasta satu-satunya waktu itu, mbak Nila keluar dari kamarnya dan memanggilku. Saat itu mbak Nila memakai kaos putih dan rok SMA nya. Aku menebak pasti dia gak pakai bra, soalnya puting payudaranya tercetak di kaus putih yang tipis itu.

“Viky ! Ke kamar mbak Nila yuk sebentar” panggil mbak Nila. aku yang sebenarnya lagi asik menonton dengan agak malas akhirnya masuk ke kamar mbak Nila.

“Ada apa mbak ?” tanyaku.

“Dari pada nonton tv, mendingan main sama mbak Nila” katanya.

“Main apa ?” tanyaku.

“Kita main dokter-dokteran yuk” ajaknya

Aku tertawa.. “Wah itu kan mainannya anak perempuan, lagian aku kan udah gede” jawabku. Padahal adikku sering mengajakku bermain dokter-dokteran.

“Ini beda, kan mbak udah dapet pelajarannya di SMA” katanya merayuku.

“Hmmm… ya udah, jadi gimana mainnya ?” tanyaku.

“Mbak yang jadi dokternya, kamu yang jadi pasiennya. Sudah kamu tiduran dulu ditempat tidur, mbak siap-siap” suruhnya.
Kemudian aku naik ke tempat tidurnya dan berbaring terlentang.

“Sakit apa de? saya periksa dulu ya…” kata mbak Nila berakting.
Kemudian dia menaikkan bajuku dan mengetuk-ngetuk dadaku layaknya seorang dokter.

“Wah de ini sakitnya parah” katanya.

Aku tertawa kecil karena mbak Nila pandai sekali meniru seorang dokter. Kemudian tangannya turun mengetuk-ngetuk perutku sambil berkata “Sepertinya penyakitnya ada dibawah sini” kemudian dia berusaha membuka kancing celanaku.

Tanganku memegang tangannya, menahan dia membuka celanaku. “Kok celananya dibuka mbak ?” tanyaku. Walaupun aku masih kecil, tapi waktu itu aku sudah mengerti perbedaan antara pria dan wanita.

“Mau disembuhin penyakitnya gak ?” katanya sambil pura-pura melotot. Aku terdiam, kemudian melepaskan tangannya. Dia tersenyum kemudian berkata “Gitu dong, kan mau diobatin”.

Kemudian dia melepas kancing celanaku dan resletingnya. Kemudian dia melorotkan celanaku hingga terpampanglah burung mudaku. Aku hanya diam menahan malu.

“Wah ini dia sumber penyakitnya” katanya riang kemudian memegang burungku. Kemudian dia duduk disebelahku. Mukaku semakin merah, apalagi burungku secara perlahan tapi pasti menegang membesar.Mbak Nila malah tertawa “Nah aku bilang apa, ini dia masalahnya, tuh dia makin keras, makin besar !” sambil mengelus-ngelus lembut burungku.

Tubuhku tergetar karena nikmat yang menjalari tubuhku. Burungku makin tegang dan makin membesar.

“Mbak…” kataku lemah karena keenakan.

“Tenang ya Viky, mbak obatin dulu ya” katanya.Celanaku dibuka secara penuh kemudian dia menaruhnya di kursi dekat meja belajarnya.

Selangkanganku dilebarkan, kemudian dia berpindah posisi, dia duduk diantara kedua pahaku. Kemudian mbak Nila mulai mengulum penisku. Aku semakin menerawang, inilah kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Saat mbak Nila mengulum dan menyedot-nyedot penisku, dia mengeluarkan suara-suara erotis diantara keluar masuknya penisku di mulutnya. Ternyata saat aku melihat, tangan kirinya meremas-remas payudaranya. Hmm tak heran badannya ikut bergetar saat mengulum penisku.

Tiba-tiba mbak Nila berhenti mengulum penisku. “Sebentar ya” kata mbak Nila yang kemudian berdiri. Aku hanya menatapnya dengan tatapan gak rela karena gak ingin kehilangan kenikmatan tadi. Ternyata mbak Nila melorotkan celana dalamnya. Karena dia memakai rok, celana dalamnya langsung turun, kemudian dia membuangnya kelantai. Dia kembali duduk diantara selangkanganku, tapi kali ini dia agak melebarkan pahanya.

Mbak Nila kembali mengulum penisku. Badanku kembali bergetar keenakan. Diantara sadar dan gak, aku mulai mencium suatu bau khas, yang sekarang aku tau kalau bau itu adalah vagina.

Aku melihat mbak Nila yang terus mengulum penisku. Tangan kirinya yang tadi meremas-remas payudaranya sekarang berada di selangkangannya, tapi aku gak bisa melihat apa yang dilakukan tangan itu sebab tertutup kain rok yang masih dipakainya. Tapi aku menduga bau khas tadi pasti berasal dari selangkangannya itu.


Kenikmatan naik sampai ubun-ubunku, badanku bergetar hebat.

“Mbak… aku mau pipis…” kataku sambil menahan dorongan hebat dipenisku. Tapi mbak Nila gak memperdulikan, bahkan mempercepat kulumannya. Aku merasa gila karena keenakan.. “Crotz… Crotz.. Crot..” akhirnya aku mengeluarkan pipisku di mulutnya, aku baru tau kemudian kalo itu adalah cairan pejuh

Mbak Nila menyedot semua cairan pejuhku, kemudian dia tersenyum padaku. “Enak kan diobatin sama mbak ?” tanyanya sambil mengelap sisa-sisa pejuh dipenisku.

Aku cuma menganggu kecil. Aku sangat lelah ! Rasa kantuk menyerangku.

“He..he..he.. abis diobatin langsung ngantuk” tawa mbak Nila.

Aku berusaha menahan kantukku, tapi rasanya berat sekali. “Ya udah tidur aja dulu gih” suruh mbak Nila yang kemudian berbaring terlentang disebelahku.

Diantara terbuka dan tertutupnya mataku, aku melihat mbak Nila menaikkan kaosnya sehingga terpampanglah payudaranya. Kemudian dia meremas-remas kedua payudaranya sendiri. Suara-suara lenguhan mulai terdengar dari mulutnya.

Sepertinya dia gak puas hanya meremas payudaranya, dia menyibak roknya keatas. Dari samping aku melihat selangkangannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku gak bisa melihat jelas, tapi aku melihat jari tengahnya keluar masuk dari lobang yang mengeluarkan bau harum tersebut.

Tangan kirinya meremas-remas payudaranya, jari tengah tangan kanannya keluar masuk vaginanya. Badannya menegang, sesekali melengkung keatas, seperti selangkangannya mengejar sesuatu.

Suara lenguhannya maikin keras dan makin cepat…. dan aku tertidur.
Entah berapa lama aku tertidur, tapi saat aku terbangun aku melihat mbak Nila tidur terlentang disampingku. Tangan kirinya masih dipayudaranya dan tangan kanannya masih diselangkangan, sama persis dengan keadaanya sebelum aku tertidur. Bedanya badannya seperti terkulai lemas, gak setegang tadi.

Lama aku memandangi tubuhnya. Tenggorokanku tercekat, sebab baru kali ini aku melihat langsung payudaranya yang bulat itu. Apalagi vagina yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Aku menelan ludahku. Walau sering membicarakan dengan temanku tentang tubuh wanita, tapi melihat langsung memang jauh lebih nikmat.

Kemudian pandangannku tertumbuk pada vaginanya. Aku jadi ingat bau khas yang aku cium tadi. Aku bergeser untuk duduk diantara selangkangannya yang masih terbuka lebar itu. Perlahan aku menggeser tangan kanan yang masih “hinggap” diselangkangan.

Dadaku berdebar, takut mbak Nila terbangun, tapi usahaku berhasil, tangannya kini berada di samping tubuhnya.Perlahan aku elus vagina itu dengan jari tengahku. Hmm.. agak berlendir. Kemudian aku mencium jari berlendirku. Aha.. ! benar kan dugaanku, bau itu dari vaginanya.

Tapi aku kurang puas. Aku elus lagi vaginanya dengan jari tengahku. Aku coba untuk menusuk lebih dalam agar mendapat lendir lebih banyak. Aku tusuk keluar masuk walau gak terlalu dalam, tapi aku belum mendapat lendir sebanyak yang aku mau.

Seiring aku menusuk-nusuk vaginanya, perlahan pinggul mbak Nila bergoyang sedikit mengikuti jariku. Aku merasa vagina mbak Nila makin berlendir, aku tersenyum puas. Saat jariku terasa cukup berlendir, aku mengangkatnya dan menciumnya. Wah… baunya sangat kuat tapi aku sangat menyukainya.

Suka akan baunya, keingintahuanku timbul untuk mencoba rasanya. Aku menjilat jari berlendirku itu. Hmm.. rasanya aneh, agak hambakr, sedikit asin. Tapi entah mengapa aku suka sekali.

Kemudian aku mengambil lagi lendir itu dari vagina mbak Nila dan menjilatnya lagi. Tapi aku kurang puas. Akhirnya aku dekatkan mukaku ke vagina mbak Nila. Aku buka lipatan luar vaginanya, terlihatnya bibir vaginanya yang berwarna merah muda. Vagina tersebut basah dengan lendir.

Perlahan aku menjilat vagina mbak Nila. Nikmat sekali menikmati lendir dari sumbernya .

“Uh..uh..uh…” lenguh mbak Nila setiap lidahku menyetuh dinding vaginanya. “Ahhhh…” lenguhnya panjang saat aku menjilat daging kecil di bagian atas lobang vaginanya. Badannya semakin bergetar dan pinggulnya maju kedepan setiap lidahku lepas dari vaginanya. Sepertinya vaginanya mengejar lidahku, ingin dijilat lagi.

Tiba-tiba kepalaku terdorong masuk ke vaginanya. “Aduh Viky enak banget !!” pekik mbak Nila. Ternyata mbak Nila sudah bangun dan tangannya menekan kepalaku ke vaginanya.

Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum padanya. “Ayo Viky lagi… mbak gak tahan nih..”.

Aku kembali menjilati vaginanya dengan lebih semangat. Tangannya tetap dikepalaku, menekan setiap aku mengangkat kepalaku.
“Ah..ah..ah.. aduh Viky enak banget..” ujarnya sambil mengangkat-angkat pinggulnya mengejar lidahku. “Shit… enak banget” sambil menggerak-gerakkan kepalanya kekiri dan kekanan.

“Akhhh…… ” pekik mbak Nila yang kemudian menarik tubuhku keatas untuk menindihnya. Dia kemudian memegang kepalaku dan kemudian memagut bibirku. Dia nafsu sekali mencium bibirku yang penuh dengan lendir vaginanya tersebut.

Akupun terangsang hebat. Aku membalas ciumannya. Tanganku meraba-raba payudaranya yang kenyal itu. Penisku tegang penuh karena ciuman itu.

Kami berciuman sangat hebat, “clop..clop…clop” bunyi diantara ciuman saling sedot kami. Tangan mbak Nila memegang penisku dan mengocok perlahan. Nikmat sekali, tapi aku lebih bisa mengendalikan diri sekarang.

“Viky, masukin ya sekarang, mbak udah gak tahan !” ujarnya sambil menatapku dengan pandangan sayu. Aku sebenarnya gak mengerti apa yang dia maksud, tapi saat dia menarik penisku kearah vaginanya, aku bergeser kebawah sedikit karena perbedaan tinggi kami.

Mbak Nila mengarahkan penisku ke vaginanya, kemudian menggesek-gesekkan kepala penisku di bibir vaginanya. Tak lama kemudian dia menarik penisku untuk masuk lebih dalam, secara reflek aku mendorong pinggulku. Perlahan penisku masuk kevaginanya. Akh.. nikmat sekali memasukkan penis ke lobang licin yang menjepit itu.

Mbak Nila menekan pantatku sampai penisku amblas masuk ke vaginanya semua. Kemudian dia menahan pantatku. Aku melihat wajahnya. Matanya dipejamkan dengan kepala agak dimiringkan kekanan, aduh seksinya. Kemudian aku mulai merasa penisku seperti diurut-urut oleh jari-jari kecil didalam vaginanya. tdak terbayang kenikmatan saat itu.

Mbak kemudian menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga penisku keluar masuk vaginanya sedikit. Sensasi kenikmatannya lebih dahsyat dari urutan vaginanya tadi. “Viky gerakin dong burungnya” pintanya memelas tapi gak menghentikan goyangan pinggulnya.
Aku mulai menggoyangkan pinggulku mengikuti gerakkannya. Sekarang penisku keluar masuk vaginanya lebih banyak. “Akh…akhh… akhh…” lenguhnya sambil menggoyangkan kepala kekiri kekanan.

Mukaku yang berada didepan lehernya menciumi dan menjilati leher mbak Nila dengan sangat bernafsu.Aku lengkungkan badanku, kemudian aku penyedot pentil payudara kirinya. Badannya ikut melengkung dan bergetar hebat. Aku pindah ke payudara kanannya, dia melenguh hebat “Akkhhh…” kemudian menggigit bibir bawahnya.

Setelah beberapa menit kami dalam posisi tersebut, kemudian mbak Nila bangkit “Viky gantian ya, kamu dibawah, supaya lebih enak”.

Aku setuju saja, kemudian aku tidur terlentang. Penisku berdiri menantang.

Kemudian mbak Nila jongkok diselangkanganku. Dia memegang penisku, mengarahkan kevaginanya yang dia turunkan. Bless…

penisku masuk seluruhnya kevaginanya. Mbak Nila kemudian menjajarkan tubuhnya dengan tubuhku. Dia kemudian tersenyum padaku “Viky kamu hebat banget, kamu udah ngegagahin aku” katanya lirih menggoda. Kemudian dia memagut bibirku.

Perlahan dia menggoyangkan pinggulnya, dan aku juga berusaha menggarakkan pinggulku, tapi agak susah. Akhirnya aku cuma diam meremasi payudaranya.

Ciuman kami lepas saat goyangannya makin kencang. “Agh.. akh.. agh..”

pekiknya setengah berteriak. Goyangan mbak Nila makin kencang, sesekali dia memutar kepalanya untuk meyibak rambutnya yang jatuh kebawah.

“Akh..akh… akh..AGGHHHHHH…” tiba-tiba tubuhnya menegang. Dia menekan vaginanya ke penisku. Gerakkannya terhenti. Matanya terpejam. Setelah beberapa lama dia membuka matanya kemudian berkata “Ahh…. Viky enak bangetth..” dengan nafas terengal-engal. Kemudian tubuhnya amburk ketubuhku.

Aku yang belum puas coba menggerakkan pinggulku. Vaginanya terasa jauh lebih licin dari sebelumnya. Cairannya makin banyak.
“Kamu belum puas ya ??” tanyanya sambil memandangku dengan wajah puas.

“Iya mbak, sedikit lagi” jawabku.Kemudian mbak Nila bergeser, kemudian tidur terlentang. Kemudian dia membuka selangkangannya lebar. Aku mengerti maksudnya, kemudian aku memposisikan tubuhku diantara selangkangannya.

Aku mengarahkan penisku ke vaginanya dan menekannya masuk. “Hgkh..” pekiknya saat penisku masuk.

“Viky yang cepet ya..” katanya lirih. “Udah gak enak lagi ya mbak ?” tanyaku.

“Masih enak, tapi mbak capek banget” jawabnya lirih.Aku menggoyangkan pinggulku dan memusatkan untuk mengejar kepuasanku. Tak lama kemudian aku merasa ada yang ingin keluar dari penisku, aku menekan penisku dalam-dalam kevaginanya dan mengeluarkan pejuhku banyak-banyak didalam vaginanya.

Aku mencabut penisku, dia terseyum lebar. Kemudian kami tidur saling berpelukan. Semenjak itu setiap ada kesempatan aku dan mbak Nila selalu melakukan hubungan sex. Selalu dikamarnya, dan gak ada orang lain yang curiga.

Setelah mbak Nila lulus, dia kerja di kota sebelah, kemudian dia menikah di kota tersebut. Hmm.. aku merindukan saat-saat aku bersama mbak Nila. Cerita Dewasa, Cerita Sex, Cerita 18+

Cerita Dewasa Kurelakan Keperjakaanku Demi Janda HOT


Cerita Dewasa Kurelakan Keperjakaanku Demi Janda HOT - Waktu itu aku tinggal di pinggiran kota Jakarta yg masih banyak penduduk Betawinya.

Di sebelah rumahku tinggal keluarga Betawi, anak lelaki bungsunya teman bermainku. Dia mempunyai 3 orang kakak perempuan. Yg akan aku ceritakan di sini adalah kakaknya yg bernama Ninok. Seorang janda beranak satu. Usianya saat itu kira-kira 38 tahunan.

Sebagai tetangga sebelah rumah, aku cukup akrab dengan semua anggota keluarga, sehingga aku bisa keluar masuk rumahnya dengan leluasa. Oh iya, sebelum aku lupa, mbak Ninok ini orangnya hitam manis dengan payudara cukup besar. Entahlah, aku sendiri saat itu tdk tau persis, karena masih “ingusan”. Yg aku tau, ukurannya cukup membuat anak seusiaku menelan ludah, kalau melihatnya.

Seperti orang Betawi jaman dulu pada umumnya, mbak Ninok ini suka sekali, terutama kalau hari sedang panas, cuma pakai bra saja dan rok bawah. Mungkin untuk mendapatkan kesegaran. Nah aku seringkali melihat si mbak dalam “mode” seperti ini. Usiaku saat itu sudah memungkinkan untuk bergairah melihat tonjolan payudaranya yg hanya ditutupi bra.

Tapi yg paling membuatku menahan nafas adalah bentuk dan goyangan pantatnya. Pinggul dan pantatnya bulat dan bentuknya “nonggeng” di belakang. Kalau berjalan, pantatnya bergoyang sedemikian rupa membuat gairah remajaku yg baru tumbuh selalu tergoda.

Pembaca, mbak Ninok ini sudah tiga kali menjanda, dan semua warga kampung kami sudah tahu bahwa mbak Ninok ini memang “nakal” sehingga tdk ada pria yg betah berlama-lama menjadi suaminya. Mbak Ninok ini suka sekali menggodaku dengan mengatakan bahwa dia pengen sekali merasakan keperjakaanku.

Suatu kali, selepas maghrib, aku ke rumahnya. Tadinya aku ingin mengajak Naryo, adiknya yg temanku untuk main. Aku masuk lewat pintu belakang karena memang sudah akrab sekali. Tapi di belakang rumahnya itu, ada mbak Ninok yg sedang duduk di kursi dekat sumur.

Aku bertanya ke si mbak,


“Pok, Naryo ada?”.
“Kagak, dia ikut baba (Bapak) ama nyak (Ibu) ke Depok.” jawab si mbak.
“Wah, jadi mbak sendirian dong di rumah?” tanyaku basa basi.
“Iya, asyik kan? Kita bisa pacaran.” sahut si mbak.

Aku cuma tertawa, karena memang sudah biasa dia ngomong begitu.

“Duduk dulu dong Rom, ngobrol ama mbak ngapa sih.” katanya.

Akupun duduk di kursi sebelah kirinya, si mbak sedang minum anggur cap orangtua. Aku tahu dia memang suka minum anggur, mungkin itu juga sebabnya tdk ada suami yg betah sama dia.

“Si Amir mana pok?” tanyaku menanyakan anaknya.
“Diajak ke Depok.” sahutnya pendek.
“Mau minum nggak Rom?” dia nawarin anggurnya.

Entah kenapa, aku tdk menolak. Bukannya sok alim pembaca, aku juga suka minum, cuma karena orang tuaku termasuk berada, biasanya aku hanya minum minuman dari luar negeri. Tapi saat itu aku minum juga anggur yg ditawarkan mbak Ninok. Jadilah kami minum sambil ngobrol ngalor ngidul.

Tak terasa sudah satu botol kami habiskan berdua. Dan aku mulai terpengaruh alkohol dalam anggur itu, namun aku pura-pura masih kuat, karena kulihat mbak Ninok belum terpengaruh. Gengsi.

Aku mulai memperhatikan mbak Ninok lebih teliti (terutama setelah dipengaruhi alkohol murahan itu). Pandanganku tertuju ke toketnya yg hanya ditutupi bra hitam yg agak kekecilan.

Sehingga toketnya seperti mau meloncat keluar. Wajahnya cukup manis, agak ke arab-araban, kulitnya hitam tapi mulus. Baru sekarang aku menyadari bahwa ternyata mbak Ninok manis juga. Rupanya pengaruh alkohol sudah mendominasi pikiranku.

Merasa diperhatikan si Mbak membusungkan dadanya, membuat penis remajaku mulai mengeras. Dan dengan sengaja dia membuat gerakan menggaruk toket kirinya sambil memperhatikan reaksiku. Tentu saja aku belingsatan dibuatnya. Sambil menggaruk toketnya perlahan si Mbak bertanya.

“Rom kok bengong gitu sih?”

Bukannya kaget, aku yg sudah setengah mabok itu malah menjawab terus terang, “Abis tetek Mbak gede banget, bikin saya napsu aja.”

Eh, dia malah merogoh toket kirinya, terus dikeluarkan dari branya.

“Kalo napsu, pegang aja Rom. Nih,” katanya sambil mengasongkan toketnya ke depan.
“Diemut juga boleh Rom.” tambahnya.

Aku yg sudah mabok alkohol, semakin pusing karena ditambah mabok kepayg akibat tantangan Mbak Ninok.

“Boleh pok?” tanyaku lugu.
“Dari dulu kan Mbak udah pengen buka “segel” Romi. Rominya aja yg jual mahal.” katanya sambil memegang kepalaku dengan tangan kirinya dan menekan kepalaku ke arah toketnya.

Aku pasrah, perlahan mukaku mendekat ke arah toket kirinya yg sudah dikeluarkan dari bra itu. Dan hidungku menyentuh pentilnya yg cokelat kehitaman. Segera aroma yg aneh tapi membuat kepalaku seperti hilang menyergap hidungku. Dan keluguanku membuat aku hanya puas mencium dengan hidungku, menghirup aroma toket Mbak Ninok saja.


“Room.” tegur Mbak Ninok.

“Apa Mbak?” tanyaku sambil menengadah.

“Jangan cuma diendus gitu ngapa. Keluarin lidah Romi, jilatin pentil Mbak, terus diemut juga. Ayo coba” Mbak Ninok mengajariku sambil kembali tangannya menekan kepalaku.

Aku menurut, kukeluarkan lidahku, dan kujilati sekitar pentilnya yg kurasakan semakin keras di lidahku. Dan sesekali kuemut pentilnya seperti bayi yg menyusu pada ibunya. Ku dengar Mbak Ninok mengerang, tangannya meremas rambutku dan berkata.

“Naah, gitu Rom. Terusin Romm. Gigit pentil Mbak Rom, tapi jangan kenceng gigitnya, pelan aja.” pinta si Mbak.

Akupun menuruti permintaannya. Kugigit pentilnya pelan, erangan dan desahannya semakin keras. Dengan lembut si Mbak menarik kepalaku dari toketnya, wajahku ditengadahkan, lalu dia mencium bibirku dengan penuh gairah. Bibirku diemut dan lidahnya bermain dengan lincahnya di dalam mulutku.

Aku terpesona dengan permainan lidahnya yg baru sekali ini kurasakan. Getaran yg diberikan Mbak Ninok melalui lidahnya menjalar dari sekujur bibirku sampai ke seluruh tubuhku dan akhirnya masuk ke jantungku. Aku terbawa ke awang-awang.

Tdk hanya itu, Mbak Ninok menjilati sekujur wajahku, dari mulai daguku, ke hidungku, mataku semua dijilat tak terlewat satu sentipun. Terakhir lidah Mbak Ninok menyapu telingaku, bergetar rasanya seluruh tubuhku merasakan sensasi yg Mbak Ninok berikan ini.

Sambil menjilati telingaku, tangannya menarik tanganku dan dibawanya ke toketnya, sambil membisikkan, “Remes-remes tetek Mbak dong Roomm.” Aku menurutinya, dan kudengar desahan si Mbak yg membuatku semakin bergairah, sehingga remasanku pada teteknya juga semakin intens.

“Aauugghh.. Sshh.. Naahh gitu Rom.”

Lalu diapun kembali menjilati daerah telingaku. Aku semakin terbuai dengan permainan Mbak Ninok yg ternyata sangat mengasyikkan untukku ini. Lalu Mbak Ninok kembali menciumi bibirku, dan kami saling berpagutan. Aku jadi mengikuti permainan lidah Mbak Ninok, lidah kami saling membelit, menjilat mulut masing-masing.

Kembali kurasakan tekanan tangan Mbak Ninok yg membimbing kepalaku ke leher dan telinganya. Akupun melakukan seperti yg dilakukan Mbak Ninok tadi.

Kujilati telinganya, dan dia mendesah kenikmatan. Lagi, dia menekan kepalaku untuk mencapai teteknya yg semakin mencuat pentilnya. Aku mencoba mengambil inisiatif untuk memegang vaginanya. Tangan kiriku bergerak turun untuk menyentuh bagian paling intim Mbak Ninok. Tapi Mbak Ninok menahan tanganku.

“Nanti dong Roomm, sabar ya sayaanng.” Aku sudah gemetar menahan gairah yg kurasakan mendesak di sekujur tubuhku.
“Pook, Romi pengen pook.” pintaku.

“Pengen apa Rom,” tanya Mbak Ninok menggodaku.

“Pengen liat itu.” kataku sambil menunjuk ke selangkangan Mbak Ninok yg masih tertutup rok merah dari bahan yg tipis.

“Pengen liat meki Mbak?” Mbak Ninok menegaskan apa yg kuminta.

“Iya pok.” jawabku.

“Itu sih gampang, tinggal Mbak singkapin rok Mbak, udah keliatan tuh.” kata Mbak Ninok sambil menyingkapkan roknya ke atas, sehingga terlihat celana dalamnya yg berwarna biru tua.

Dan kulihat segunduk daging di balik celana dalam biru tua itu. Aku menelan ludah dan terpaksa menahan untuk tdk limbung. Sungguh luar biasa bentuk gundukan di balik celana dalam itu. Aku memang baru pertama kali melihat gundukan meki, tapi aku yakin kalo gundukan meki Mbak Ninok sangat montok alias tembem sekali.

Dan Mbak Ninok memang sengaja ingin menggodaku, dia menahan singkapan roknya itu beberapa lama, dan saat aku ingin menyentuhnya, dia kembali menutupnya sambil tertawa menggoda.

“Jangan disini dong Rom. Ntar kita digerebek lagi kalo ada yg tau.” kata Mbak Ninok sambil berdiri dan menuntun tanganku ke dalam rumahnya.

Bagai kerbau dicocok hidungnya akupun menurut saja. Aku sudah pasrah, aku ingin sekali merasakan nikmatnya Mbak Ninok. Dan yg pasti aku sudah telanjur hanyut oleh permainannya yg pandai sekali membawaku ke dalam jebakan kenikmatan permainan sorgawinya.

Mbak Ninok menuntunku ke kamarnya. Tempat tidurnya hanya berupa kasur yg diletakkan di atas karpet vinyl, tanpa tempat tidur. Lalu mbak Ninok mengajakku duduk di kasur. Kami masih berpegangan tangan. Mbak Ninok melumat bibirku, dan kami berpagutan kembali. Lalu mbak Ninok menghentikan ciuman kami. Dia menatapku dengan tajam, lalu bertanya.

“Rom, kamu bener-bener pengen ngeliat meki mbak?”

Aku mengangguk, karena pertanyaan ini membuatku tdk bisa menjawab. Semakin mabok rasanya. Mbak Ninok kemudian melepaskan rok dan bra yg dipakainya dan sekarang tinggal celana dalamnya saja yg masih tersisa.

Kembali aku menelan ludah. Dan pandanganku terpaku pada gundukan di balik celana dalam mbak Ninok. Betapa montoknya gundukan meki mbak Ninok.

Lalu mbak Ninok berbaring telentang, kemudian dengan gerakan perlahan, mbak Ninok mulai menurunkan celana dalam sehingga terlepaslah sudah. Aku yg masih duduk agak jauh dari posisi meki mbak Ninok cuma bisa menahan gairah yg menggelegak di dalam jantung dan hatiku.

Benar saja, meki mbak Ninok sangat tebal, dagingnya terlihat begitu menggairahkan. Dengan bulu yg lebat, semakin membuatku tdk karuan rasanya.

“Katanya pengen ngeliat, sini dong liatnya dari deket Rom,” kata mbak Ninok.
“I iya pok,” sahutku terbata sambil mendekatkan wajahku ke selangkangan mbak Ninok.

Dia melebarkan kedua pahanya sehingga membuka jalan bagiku untuk lebih mendekat ke mekinya.

“Niih, puas-puasin deh liatin meki mbak, Rom.” kata mbak Ninok.

Setelah dekat, apa yg kulihat sungguh membuatku tdk kuat untuk tdk gemetar. Belahan daging yg kulihat ini sangat indah, berwarna merah, bulunya lebat sekali menambah keindahan. Di bagian atas, mencuat daging kecil yg seperti menantangku untuk menjamahnya. Aromanya, sebuah aroma yg aneh, namun membuatku semakin horny.

“Udah? Cuma diliatin aja? Nggak mau nyium itil mbak?” pancing mbak Ninok sambil dua jari tangan kanannya menggosok-gosok daging kecil yg mencuat di bagian atas mekinya.

“Mm.. Mmau pok. Mau banget.” kataku antusias. Lalu tangan mbak Ninok menekan kepalaku sehingga semakin dekat ke mekinya.
“Ya udah cium dong kalo gitu, itil mbak udah nggak tahan pengen Romi ciumin, jilatin, gigitin.”

Dan bibirkupun menyentuh itilnya, kukecup itilnya dengan nafsu yg hampir membuatku pingsan. Aroma kewanitaan mbak Ninok semakin keras menerpa hidungku. Mbak Ninok mendesah saat bibirku menyentuh itilnya. Lalu kejilati itilnya dengan semangat, tdk hanya itilnya, tapi juga bibir meki mbak Ninok yg tebal itu aku jilati. Jilatanku membuat mbak Ninok mengejang seraya mendesah dan mengerang hebat.

“Sshh.. Aarrgghh.. Gitu Roomm.. Oogghh..”

Suara rintihan dan desahan mbak Ninok membuatku semakin bergairah menjilati seluruh bagian meki mbak Ninok. Bahkan sekarang kumasukkan lidahku ke dalam jepitan bibir meki mbak Ninok. Tangan mbak Ninok menekan kepalaku, sehingga wajahku semakin terbenam dalam selangkangan mbak Ninok. Agak susah juga aku bernafas, tapi aku senang sekali.

Kumasukkan lidahku ke dalam lubang nikmat mbak Ninok, lalu ku jelajahi lorong mekinya sejauh lidahku mampu menjangkaunya. Tiba-tiba, kurasakan lidahku seperti ada mengemut. Luar biasa, rupanya meki mbak Ninok membalas permainan lidahku dengan denyutan yg kurasakan seperti mengemut lidahku. Tubuh mbak Ninok menggelinjang keras, pinggulnya berputar sehingga kepalaku ikut berputar.

Tapi itu tdk menghentikan permainan lidahku di dalam jepitan daging meki mbak Ninok. Desahan mbak Ninok semakin keras begitu juga dengan gerakan pinggulnya, aku semakin bersemangat menjilati, dan sesekali aku menjepit itilnya dengan kedua bibirku, dan rupanya ini sangat membuat mbak Ninok terangsang, terbukti setiap kali aku menjepit itilnya dengan bibir, mbak Ninok mengejang dan mendesah lebih keras.

“Sshh, aarrghhgghh, Rom, itu enak banget Roomm..”

Tapi, putaran pinggul mbak Ninok terhenti, sebagai gantinya, sesekali dia menghentakkan pantatnya ke atas. Hentakan-hentakan ini membuat wajahku seperti mengangguk-angguk. Erangannya semakin keras, dan tiba-tiba dia menjerit kecil, tubuhnya mengejang, pantatnya diangkat keatas, sedangkan tangannya menekan kepalaku dengan kencang ke mekinya. Dan kurasakan di dalam meki mbak Ninok ada cairan yg membanjir dan ada rasa gurih yg nikmat sekali pada lidahku.

Desahan mbak Ninok seperti sedang menahan sakit. Tapi belakangan baru aku tahu bahwa ternyata mbak Ninok sedang mengalami orgasme. Dan pantat mbak Ninok berputar pelan sambil terkadang terhentak keatas, dan tubuhnya mengejang. Sementara itu, cairan yg membanjir keluar itu ada yg tertelan sedikit olehku, tapi setelah aku tahu bahwa rasanya enak, akupun menjilati sisa cairan yg masih mengalir keluar dari meki mbak Ninok. Mbak Ninok kembali menggeliat dan mengerang seperti orang sedang menahan sakit.

Kepalaku masih terjepit dipahanya, dan mulutkupun masih terbenam di mekinya. Tapi aku tak peduli, aku menikmati sekali posisi ini. Dan tak ingin cepat-cepat melepaskannya. Tak lama kemudian, mbak Ninok merenggangkan pahanya sehingga kepalaku bisa bebas lagi. Kemudian mbak Ninok menarik tanganku.

Aku mengikuti tarikannya, badanku sekarang menindih tubuhnya, kambali bibir kami berpagutan. Lidah saling belit dalam gelora nafsu kami.

Lalu mbak Ninok melepaskan ciumannya dan berkata,

“Rom, terima kasih ya. Enak banget deh. Mbak puas. Ayo sekarang giliran mbak.”

Mbak Ninok bangun dari tidurnya dan akupun duduk. Dia mulai membuka pakaianku dimulai dari kemejaku. Setiap kali satu kancing baju terlepas, mbak Ninok mengecup bagian tubuhku yg terbuka. Dan saat semua kancing sudah terlepas, mbak Ninok mulai menjilati dadaku, pentilku disedotnya.

Aku merasakan sesuatu yg aneh namun membuatku semakin bernafsu. Sambil menjilati bagian atas tubuhku, tangan mbak Ninok bekerj membuka celana panjangku dan melemparkannya ke lantai. Sekarang aku hanya tinggal mengenak celana dalam saja. Mbak Ninok menyuruhku berbaring telentang. Aku menurut.

Lalu celana dalam ku diperosotkannya melalui kakiku, aku membantu dengan menaikkan kakiku sehingga mbak Ninok lebih mudah melepaskan celana dalamku. Dunia seperti terbalik rasanya saat tangan mbak Ninok mulai menggenggam tititku dan mengelus serta mengocoknya perlahan.

“Lumayan juga titit kamu Rom. Gede juga, keras lagi.” celetuk mbak Ninok.

Tak membuang waktu, mbak Ninok segera menurunkan wajahnya sehingga mulutnya menyentuh kepala tititku. Dikecupnya kepala tititku dengan lembut, kemudian dikeluarkannya lidahnya, mulai menjilati kepala, lalu batang dan turun ke.. Bijiku. Semua dilakukannya sambil mengocok tititku dengan gerakan halus. Lidahnya bergerak turun naik dengan lincahnya membuatku semakin tdk terkendali. Aku mendesah dan mengerang merasakan kenikmatan dan sensasi yg mbak Ninok berikan. Sungguh luar biasa permainan lidah mbak Ninok.

Setelah beberapa lama, mbak Ninok menghentikan lidahnya. Rupanya dia sudah merasa bahwa tingkat ereksiku sudah cukup untuk memulai permainan.

“Udah Rom, sekarang Romi masukkin kontol Romi ke meki mbak. Adduhh, mbak udah nggak sabar pengen disiram sama perjaka. Biar mbak awet muda Rom.” kata mbak Ninok.

Aku tak mengerti maksud mbak Ninok, tapi yg jelas, sekarang mbak Ninok kembali tiduran dan menyuruhku mulai mengambil posisi di atasnya. Mbak Ninok melebarkan kedua kakinya sehingga aku bisa masuk di antara kakinya itu. Kemudian mbak Ninok memegang tititku dan mengarahkannya ke mekinya yg sudah menanti untuk kumasuki. Mbak Ninok meletakkan tititku di depan mekinya, kemudian berkata,

“Nah, sekarang teken Rom.”

Aku tdk menunggu lebih lama lagi. Segera kutekan tititku memasuki kegelapan meki mbak Ninok. Kurasakan tititku seperti dijepit daging yg sangat keras namun lembut dan kenyal, agak licin tapi sekaligus juga agak seret.

“Aagghh.. Pelan dulu Rom,” pinta mbak Ninok.

Saat kepala tititku sudah masuk, mbak Ninok menggoyangkan pinggulnya sedikit, membuatku semakin mudah untuk memasukkan seluruh tititku. Dan akhirnya terbenamlah sudah tititku di dalam mekinya. Jepitannya kuat sekali, namun ada kelicinan yg membuatku merasa seperti di dalam sorga.

Kemudian mbak Ninok terdiam. DIa berkonsentrasi agaknya, karena tahu-tahu kurasakan tititku seperti disedot oleh meki mbak Ninok. Ya ampuun, rasanya mau meledak tubuhku merasakan denyutan di meki mbak Ninok ini. Tititku seperti dijepit dan tdk bisa kugerakkan. Seperti ada cincin yg mengikat tititku di dalam meki mbak Ninok. Aku agak bingung, karena aku tdk bisa bergerak sama sekali.

“Mbak, apa nih?” aku bertanya.
“Enak nggak Rom?” tanya mbak Ninok.
“Iya pok, enak banget. Apaan tuh tadi pok?” aku kembali bertanya.

Mbak Ninok tdk menjawab, hanya tersenyum penuh kebanggaan. Kemudian mbak Ninok melepaskan jepitan mekinya pada tititku.

“Sekarang kamu gerakin keluar masuk titit kamu ya Rom.” perintah mbak Ninok.

Dan akupun mulai permainan sesungguhnya, kugerakkan tititku keluar masuk di lorong kenikmatan mbak Ninok. Setiap gerakan yg kubuat menimbulkan sensasi yg luar biasa, baik untukku maupun untuk mbak Ninok. Mula-mula pelan saja gerakanku, tapi lama-lama, mungkin karena nafsu yg semakin besar, gerakanku semakin cepat.

Dan mbak Ninok mengimbangi gerakanku dengan putaran pinggulnya yg mengombang-ambingkan tubuhku. Putaran pinggul mbak Ninok membuat seperti ada yg mau meledak dalam diriku.

“Hhgghh.. Oogghh.. Sshh, Roomm. Kamu jago banget Roommm..” desah pok Ninok.

Aku tdk tahu apa maksudnya, namun pujiannya membuatku semakin memacu “motor”ku menerobos kegelapan di lorong mbak Ninok. Lalu mbak menghentikan putaran pinggulnya dan melingkarkan kakinya ke kakiku sehingga kembali aku tdk bisa bergerak leluasa.

“Rom, sekarang kamu diem aja, kamu rasain aja mpot ayam mbak.” perintahnya.

Lagi, aku tak tahu apa maksudnya, namun mbak Ninok mencium bibirku dan lidahnya mengajakku berpagutan kembali.

“Mbak udah mau keluar lagi nih Rom, kita barengin ya sayang, mbak tanggung pasti enak deh.” kata mbak Ninok.

Tubuh mbak Ninok diam, namun kurasakan tititku seperti dijepit dan dipijit dengan lembut, benar-benar luar biasa meki mbak Ninok. Kembali desakan lahar dalam diriku menuntut dikeluarkan. Dan denyutan meki mbak Ninok terus saja mengemuti tititku membuatku merem melek. Dan akhirnya aku benar-benar tdk kuat menahan lahar yg mendesak itu.

“Mpookk.. Adduuhh.. Sayaa..” aku tdk dapat meneruskan kata-kataku, tapi mbak Ninok rupanya mengerti bahwa aku sudah hampir mencapai klimaksku.

“Tahan Rom, mbak juga mau nyampe nih, Barengin ya Rom.” kata mbak Ninok.

Aku tak peduli, karena aku tdk bisa menahannya, dengan erangan panjang, aku merasakan tititku mengeras dan tubuhku mengejang. Kuhunjamkan tititku dalam-dalam ke meki mbak Ninok, dan menyemburlah lahar yg sudah mendesak dari tadi ke dalam meki mbak Ninok.

“Mpookk.. Aagghh..”

Croott… Crroott… Mbak Ninokpun menjerit kecil dan tubuhnya menegang, tangannya memeluk dengan kuat. Di dalam kegelapan meki mbak Ninok, semprotan air maniku bercampur dengan banjirnya air mani mbak Ninok. Aku tak bisa mengungkapkan bagaimana enaknya sensasi yg kurasakan. Pinggul mbak Ninok bergetar, dan menghentak dengan kerasnya.

Mekinya berdenyut-denyut, enak sekali. Banyak selaki lahar yg kumuntahkan di meki mbak Ninok, ditambah lahar mbak Ninok, rupanya tdk mampu ditampung semuanya, sehingga sebagian meleleh keluar dari meki mbak Ninok dan turun ke belahan pantatnya.

Lama kami berdiam dalam posisi masih berpelukan, tititku masih terbenam di meki mbak Ninok. Tubuh kami bersimbah peluh, nafas kami masih memburu. Kemudian, mbak Ninok tersenyum, lalu menciumku.

“Kamu hebat banget Rom. Baru pertama aja udah bisa bikin mbak puas. Gimana nanti kalo udah jago.” kata mbak Ninok.
“Pok, Ma kasih ya pok. Enak banget deh tadi pok.” kataku.

“Sama-sama Rom, mbak juga terima kasih udah dikasih perjaka kamu. Besok mau lagi nggak?” tantang mbak Ninok.
“Mau dong pok, siapa yg nggak mau meki enak kayak gini.” jawabku sambil mengecup bibirnya. Dan kamipun kembali berpagutan. Cerita Dewasa,Cerita Sex, Cerita 18+